Let’s Judge a Book by it’s Cover, Thinking far away from The Box



Share
Let’s Judge a Book by it’s Cover
Silahkan menilai bahasan postingan kali ini dan kali lainnya membingungkan ... melompat-lompat dan tidak teratur, kacau balau serta ngawur ... memang sengaja loncat-loncat jangan menilai dari judulnya karena judul bisa jadi 'sangat tidak mewakili isi', apalagi jika cuma sekadar melihat 'gambar' .. ingat one statement bisa billion perceptions apalagi 'gambar bisa mewakili milyaran arti'.

You know the old saying “Don’t judge a book by it’s cover” words of wisdom that we’ve all ignored at one time or another. And not just with books, right ? It’s a great metaphor and it often makes sense, yet I find myself making decisions on “the cover” of things from wine labels to situations.

It appears that Minnesota has found itself in a bit of a “judge a book by it’s cover” situation over a recent appearance by acclaimed author Neil Gaimon over an appearance in Stillwater for Money for Club Book which was paid for by Legacy funds.

Strib reports

Librarians defend use of Legacy funds to inaugurate Club Book series with bestseller Neil Gaiman. The metro-wide program was started to expose suburbia to authors of national acclaim… Fantasy and science fiction writer Neil Gaiman’s speaking fee of $45,000 for a recent four-hour appearance in the metrowide Club Book series has some tongues in the library community wagging in astonishment.

Let’s start with the Legacy Fund, it has been a classic case of judging a book by it’s cover since day 1. Everytime a news article comes up about the Legacy funding being used there is at least a minor kerfuffle. Public money is like that, even when we agree we want money spent we often disagree on how or when it should be spent.

When it comes to the Legacy Fund most of it’s supporters and many of it’s detractors had preconceptions on how the money should be spent.

Now with the Gaimon situation it seems the issue isn’t that money is being spent on a literature series, but rather the amount of money spent on one author with Gaimon’s appearance taking up nearly a third of the fund for the Money for Club Book series.

Personally I understand that some authors will cost more than others and they’ll also have a much bigger draw, but in this situation I have seen estimates of 500 people attending. At $45,000 for the event, that means the fund paid $90 a ticket for the pleasure of Mr.Gaimon’s lecture.

I was going to attend, but I had plans that day. Were you there? If so, what did you think? Either way, let’s judge a book by it’s cover.

I am leaning towards the side of “it’s no big deal”, kudos the the library system for bringing in Mr.Gaimon and kudos to Mr.Gaimon for getting a big pay day. It’s a tough literary world out there and big paydays are a rarity for authors.

Now I’ve read reople generally speak at 150 words per minute and there are 60 minutes in an hour which makes 9,000 words per hour or 36,000 words per the four hour commitment. That’s about 1.25 per word Mr.Gaimon was paid.
Does that mean if he spoke in all 50 cent words he would have been over payed by 75 cents a word?

Just kidding, Neil. Love ya’ man.
Bukan mau membicarakan Polri yang 'kebakaran jenggot' karena Cover Majalah Tempo Edisi Juni dengan Headline 'Rekening Gendut Perwira Polisi' ataupun menganalisa tulisan di atas "Let’s Judge a Book by it’s Cover", akan tetapi bahasan malam ini mengupas Kemampuan Inovasi Ide Bisnis di Indonesia sangat lemah dibandingkan negara lain, bener khan ndak nyambung dengan judul .. tidak konsisten ... kacau dan tidak teratur ah bisa aja.


Masih jauh bagi Bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang inovatif ide cemerlang, kebanyakan kita lebih suka untuk menjadi konsumen, Inovasi orang lain. Kita lebih suka jadi 'Jupe' (Jurig Fesbuk) dibanding memikirkan atau mencari cara mengganti layout facebook selamanya atau mencoba-coba cara ngehack facebook.

Amerika dan Eropa lebih banyak memenangkan nobel karena mereka memiliki ide di berbagai bidang. Dalam dunia Bisnis, Amerika menjadi produsen ide paling inovatif di dunia. Karena itu banyak perusahaan Amerika unggul terus, sisa di luar Amerika menjadi konsumen ide.

Indonesia adalah konsumen ide Amerika yang sangat loyal, asal datang dari Amerika, langsung telan .... kita secara massal sedang dihipnotis dalam Ilmu Pengetahuan oleh Amerika.

Untuk menjadi inovatif, harus diciptakan lingkungan yang bebas dalam berpikir, Thinking Out of The Box atau tidak ada salahnya 'Thinking far away from The Box'. '

Missmanajemen' itu perlu, dalam suatu organisasi yang banyak pekerja intelektualnya, salah satu cara untuk berhasil adalah berani untuk memunculkan 'tingkat kekacauan tertentu'.

Orang-orang di bidang TI atau jurnalisme, misalnya bila harus masuk pukul 8 pagi dan pulang pukul 5 sore, akan merasa terikat dan bakal kabur. Kalau lagi mau kerja, kerja. Bahkan sampai tidak pulang ke rumah. Kalau lagi tidak mau bekerja, ya tidak kerja. Dipecatpun pecat saja.

Semakin banyak pekerja intelektual dekat kita semakin sedikit kita butuh manajemen. Kita memerlukan apa yang dalam ilmu manajemen disebut 'kacau'. Dalam pengertian saya itu bukan kacau tetapi suatu variasi dalam gaya mengelola orang.

Orang-orang seperti ini dari tahun ke tahun jumlahnya semakin banyak. Itu jelas-jelas tidak bisa dipagari oleh kotak yang namanya 'manajemen' , kita harus bikin kotak baru di luar itu untuk membuat orang dengan type seperti ini produktif.

Kalau memakai bahasa kopi tz, diperlukan situasi 'ketidaknyamanan yang membuat mereka nyaman' karena gaya kerja orang-orang 'gila' seperti ini punya ciri khas 'ketidak konsistenan yang konsisten', 'ketidak jelasan yang jelas' dan 'kekacauan yang rapi' ... dari segi waktu kerja, cara kerja maupun gaya bekerja ... jika diintip dari kacamata manajemen.

Selanjutnya ... 'Let’s Judge a Book by it’s Cover' wkwkwkwkwk ... siapa takut

3 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


harry seenthing said...

sok resep pisan gaya tulisan si akang teh..bet bisa nyararambungnya.....

Yet Another Blogger said...

wedeh ini keren nih, itu bagus tuh 'ketidak konsistenan yang konsisten' :D mereka nyaman dari ketidaknyamanan hehe, ini artikel bagus kok yang komen dikit ya? hehehehe

Risma2006 said...

Kopi Tozie cocoknya jadi S2 Master of Management (MM)

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...