My Widget Edit by Kopitozie

Blogger Bukan Hacker Distributed by Kopitozie

18 May 2008

Noisy Sex and Noisy Neighbors

"Our neighbors complain about our noisy sex. What should we do?
This is a fascinating dilemma, and one that probably exists for many college marrieds -- and parents of young children, too. First, I am stunned that you have received complaints about your lovemaking from neighboring students. Is this a sign of their jealousy that you two are going at it and they are not? Or are you mimicking an 8.2 earthquake and scaring them out of deep sleep?

The orgasm-directed coaching that I do involves teaching both men and women how to open up their ability to make sounds when they release the orgasmic charge. Sounding, as I call it, is one of the ways to expand the intensity of orgasm. I certainly would not want you and your mate to lose this all-important feature of your lovemaking. Instead, I hope that you will find ways to keep your sexual patterns for vocalizing alive and instead find solutions for the spatial problems that surround you.

Try some alternatives to your sexual vocal releases. You may want to breathe deeply instead of screaming or moaning when you reach the point of orgasmic release. You may want to "soundproof" your suite of rooms to give your paranoia -- and your neighbors -- a rest. Or, you may want to start looking for new digs, just as soon as possible.
"

Suara desahan itu muncul lagi. Seminggu yang lalu, saya terganggu sekali setiap 'tetangga kamar 9A hotel R di kota Mhmm kost' saya berhubungan seks. Bukan apa-apa, suaranya itu lho, berisiknya minta ampun!

Memang sih, orang-orang bilang, desahan perempuan ketika melakukan hubungan seks bisa menambah gairah pasangannya. Tapi kalau suara desahannya sampai ke 'kamar tetangga', bukannya menimbulkan gairah seks lagi, tapi gairah untuk menggampar dan menyumpal mulut orang yang berisik itu! *wih, gue emosi banget ya nulisnya?

Bukan apa-apa. Ceritanya, tetangga kamar saya ini pasangan muda. Kalau melihat tampangnya sih biasa-biasa saja. Mendengar suara berisik perempuannya, saya yakin itu hanya desahan yang dibuat-buat saja. Pasti terlalu banyak nonton film porno deh, jadi aja over acting! Memangnya cuman dia yang bisa make love have sex (sorry 'mbak cikungunya' yg lagi jadi mandor gw pinjem kosa katanya)?

Minggu lalu, ketika suara jeritan-jeritan seks itu terdengar lagi, saya mengecilkan volume tv saya. Supaya mereka sadar bahwa suara si perempuan yang terdengar dibuat-buat mendesahnya itu terdengar sendiri oleh mereka.

Tapi ternyata memang mereka tidak peduli dengan tetangga kamar yang terganggu sepertinya. Saya muak sekali mendengarnya. Sirik dan Pengen Jijik tepatnya. Saking Sirik dan Pengen jijiknya, saya coba mengeraskan volume tv lagi. It didn’t work. Well, I got a better idea.

It was after midnight actually. Suasana pasti sepi sekali dong. Saya punya pikiran jahil. Saya ingin mencoba apakah perhatian mereka terganggu jika saya membunyikan sesuatu dengan keras. Well, bukan membunyikan sih… karena yang saya lakukan adalah, saya membanting kursi sehingga bunyinya terdengar keras sekali. Lalu saya membuka laci meja saya, dan menutupnya kembali dengan suara keras. Guess what’s happened?

Suara desahan berisik itu langsung hilang!

Good! Akhirnya mereka tahu juga kalau suara sialan itu mengganggu tetangga kamar.

Ow ya, mungkin yang baca heran, kenapa saya bisa terganggu dengan suara berisik kamar tetangga. Petualangan di Batam membuat saya harus menyewa sebuah kamar di salah satu tempat kost yang dekat dengan jantung kota warnet 24 jam untuk menghemat tenaga dan waktu setiap harinya. So, kebetulan, tetangga saya ini umurnya masih muda, dan mereka tinggal sekamar berdua, walaupun bukan suami isteri.

Sebagai orang yang usianya sudah sangat tuir agak matang seperti saya, pastilah memaklumi dan sangat mengerti kalau seks itu butuh bumbu-bumbu penyedap, dan salah satunya adalah desahan seks itu. Saya yakin, pembaca blog saya ini juga banyak yang suka mendesah, bahkan menjerit-jerit ketika sedang berhubungan seks. Tapi apakah harus berbagi dengan orang lain dan tidak peduli kalau suaranya terdengar kemana-mana?

But, you know what, ada satu hal yang membuat saya ingin tertawa kalau mendengar perempuan itu mendesah-desah atau lebih tepatnya menjerit-jerit ketika berhubungan seks, yaitu, dia suka sekali memanggil-manggil si laki-laki. Niatnya sih dia memanggil dengan sebutan “babe” yang dibacanya “beib”, tapi kalau si perempuan ini yang menyebut, sebutan “babe” ini menjadi “bep” dan terdengarnya seperti…”ow yes bep…yes..oah...beeep..beeep…”

yaiks!!! bebeeek kaleeeeeee! *sirik ya gue?

By the way, "Are you a noisy-sex maker too?"

Source : Roseheart & Love.ivillage.com

Readmore ... Selengkapnya ... »»

16 May 2008

Pemenang Pemilihan Cover Buku 3C !



Hi sahabat 3 colours,
Setelah rame tarik ulur mana panjang mana pendek yg panjang
kalah...hehehhehe...kayak mainan kita waktu maen petak umpet, akhirnya dengan bantuan semua blogger disini kita bisa menentukan cover cerpen kita nantinya, dan Yang terpilih sebagai 3 komentar terbaik adalah...eng ing eng...sapa ya?

SELENGKAPNYA DESAIN COVER BUKU CERPEN 3C :




** ga jadi narsis deh ....kecuali banyak email yg meminta cover ini
lebih banyak dari jumlah pemilih hikz....hikz....


so....3 pemenang undian polling ini adalah dari yang memilih nomer 3
sebagai cover. Sementara 1 pemenang hadiah pulsa sebagai
komentator terbaik!



** cover setelah direvisi dari masukan kalian


PEMENANG DOOR PRIZE BUKU CERPEN 3C ADALAH :

1.vdee(
http://kidungjingga.wordpress.com/)
2.agung(http://jatiagung.multiply.com/)
3.ferror(http://blog.indosiar.com/ferror)


sementara KOMENT TERBAIK yang dipilih dan berhak mendapat
DOOR PRIZE PULSA adalah ........

http://blog.indosiar.com/beyaz_gul



Selamat kepada para pemenang ya!

semua pilihan pemenang ini adalah mewakili
komunitasnya.multiply,wordpress dan bloggaul, maaf yg dari
blogspot gak ada yg mendapat doorprizenya!
gak ada yg cocok gimana tozie armadanya gak ada yg dapat
hadiah nih...jangan protes dan kecewa yach!
namanya juga undian .... siapa beruntung itulah pemenangnya!

INGAT GA ADA ISTILAH KKN ......


so guys buat yang menang akan segera dihubungi untuk konfirmasi
hadiahnya.segala pertanyaan,saran dan kritik bisa dialamatkan ke three.colours(at)yahoo(dot)com

Tidak lupa terima kasih banyak atas peran sertanya dalam pemilihan cover ini,
love U all ......

NEXT POST ......

SIAPA SAJA ' PARA PAKAR' YANG TESTI DI BUKU 3C ?
Ini yang paling ditunggu-tunggu sebagai referensi calon pembaca
Buku Cerpen Three Colours, iya kan?




reposted by Team 3C

Readmore ... Selengkapnya ... »»

Indonesia Tak Butuh Iblis



Kita memerlukan orang jahat tetap sebagai orang jahat, demi kelegaan hati kita. Kita katakan kepada diri kita sendiri: “si Dia... itu pengiiin banget lho masuk neraka!

Tengkyu buat Adikku Deesan dan Sahabatku Hesti serta mantan 'korban' Mas Butet atas Supportnya untuk Mantan 'Penjahat' pemilik blog ini.

Laut Merah

Umpama Boleh Berandai-andai
Jikalau bisa berumpama
Saat ini aku berada di tepi laut merah ...
Di belakang Fir'aun dan pasukannya
Di Depan Samudera merah yang ganas
Meskipun aq banyak dapat berbuat
Namun tiada jalan keluar ...


Dan Aku Bukan Nabi Musa Hanya Seorang Manusia yang Berlumur Dosa

***
Seseorang, umpamanya , .... yang dalam proses sejarah tiba pada posisi “diharamkan” oleh banyak orang, dalam berbagai ungkapan selalu digelari dengan idiom-idiom itu: iblis, setan, monster, dajjal, fir’aun.


Saya coba menjawab seadil mungkin secara ilmu maupun empirik:
“Pemberi Gelar tentu memiliki hujjah atau argumentasinya sendiri dengan penyebutan itu. Dan itu urusan Pemberi Gelar dengan dirinya sendiri dan dengan Tuhan.

Pada hakekatnya hanya luthf (kelembutan pandangan) Allah yang paling mampu dengan detail menakar berapa prosentase kefir’aunan hambaNya.
Adapun manusia, sejauh-jauh prestasinya hanyalah perjuangan untuk berendah hati di dalam kesadaran bahwa setiap hamba Allah yang bernama manusia memiliki potensi kefir’aunan dan potensi ke-Musa-an atau ke-Muhammad-an di dalam dirinya masing-masing.

Dengan kata lain, Fir’aun, Musa, Muhammad, Malaikat dll. bisa kita pahami sebagai potensialitas kejiwaan pada diri manusia, dan tidak harus merupakan oknum atau pribadi. Ketika Musa diperintahkan oleh Allah agar mendatangi Fir’aun untuk menanyakan apakah RajaLela itu mau membersihkan diri atau tidak -- bisa kita maknai bahwa potensi Musa kita mendatangi potensi Fir’aun kita sendiri untuk menyampaikan tawaran gratis dari Allah itu.
***

Saya dan kita semua bisa ikut menakar ... : berapa benarnya, berapa salahnya, mana baiknya, mana buruknya. Di level mana saja benar salah baik buruknya itu: level moral, level hukum formal, level ilmiah, level kultural, atau apapun. Sambil wanti-wanti kepada diri sendiri melalui firmah Allah: “Janganlah kebencianmu kepada seseorang membuatmu bersikap tidak adil”.

Akan tetapi bisa jadi hasil penilaian kita tidak seratus persen sama dengan al-lathif, Yang Maha Lembut itu. Yang kita ketahui hanya satu, yang tak kita ketahui tak terhingga jumlahnya. The real judge adalah Allah swt. Kita mungkin tidak pernah siap untuk melihat dan menerima kenyataan bahwa seseorang yang ‘kita nikmati dalam kebencian’ dan kita sebut iblis, ternyata bisa juga ingin memperbaiki diri. Lebih tidak siap lagi membayangkan bahwa ia bertobat.

Kita memerlukan orang jahat tetap sebagai orang jahat, demi kelegaan hati kita. Kita katakan kepada diri kita sendiri: “... itu pengiiin banget lho masuk neraka!
***

Pokoknya ... harus kita pertahankan sebagai satu-satunya simbol iblis di Indonesia, sehingga kita yang dulu ikut aktif dalam sistem iblis itu selama berpuluh-puluh tahun bisa terbebas dari tudingan. Kita langgar persepsi ilmiah bahwa keiblisan Orde Baru itu kolektif, mustahil individual: kita pertahankan cara pandang ini dengan segala cara.

Tetapi tidak saya persoalkan apakah pemakaian kata-kata iblis dlsb. itu berangkat dari hubungan-kesadaran, sampai ke etimologi dan teologi, ataukah sekedar pinjam istilah. Sebagaimana Pancasila dan UUD-45 menyebut kata ‘Tuhan’ dan ‘Allah’ bisa jadi sekedar oper idiom, karena kemudian di dalam praksis kehidupan bernegara kita tidak lagi penting apakah Tuhan dan Allah dijadikan rujukan utama atau tidak bagi kemungkinan makhraj (solusi) dari masalah-masalah yang menimpa.

Sesungguhnya sangat menarik untuk membicarakan iblis, lengkap dari perspektif ilmu fisika, biologi, teologi dan budaya. Misalnya bahwa suku cadang kemakhlukan kita ini sama dengan iblis, setan, malaikat, batu, dan apapun saja makhluk Tuhan.

Hanya saja speed molekular-nya berbeda, komposisi dan aransemen keatomannya berbeda, sehingga karakter chromosome-nya juga lain, termasuk hak dan kewajiban yang diberikan oleh Penciptanya juga tak sama -- sehingga habitat dan perilaku, alias kebudayaan dan peradabannyapun berbeda.

Yang paling menarik kali ini adalah bahwa ternyata kita di Indonesia sama sekali tidak butuh iblis....

***
Cobalah kita kuliti sejumlah perbedaan antara kita dengan iblis, umpamanya. Sebagaimana beda kita dengan binatang sangat jelas: kalau macan sudah makan kambing dan kenyang, maka ia bisa tidur damai dengan ratusan kambing, sampai ia lapar kembali dan memakan hanya seekor lagi seperti di-sunnah-kan olehNya.

Sementara kita, meskipun sudah punya lima proyek besar, masih terus sanggup menyikat puluhan proyek lain -- sehingga hancurlah Orde Baru. Manusia dipinjami kemerdekaan dan demokrasi, dan ia mengerjakannya belum tentu dengan kedewasaan dan nurani kemanusiaan, malah kebanyakan dengan nafsu dan unbounded posessiveness: rasa ingin memiliki yang tak ada batasnya.

Semoga rencana-rencana kekuasaan, melalui sekian banyak partai-partai politik, tidak bermuatan hal semacam itu. Kalau orang bertanya: partai politik itu ingin kebaikan atau kemenangan? Ataukah ingin kemenangan untuk memperjuangkan kebaikan? Kalau yang terasa dominan adalah napsu untuk menang, maka adanya muatan semacam itu sangat kita kawatirkan.

Semoga kemenangan PKB adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Semoga kemenangan PDI Perjuangan, PAN, atau Golkar atau apapun, hanya punya satu arti: ialah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Kalau kemenangan parpol adalah hanya kemenangan parpol itu sendiri, akan tetap celakalah nasib rakyat.

Keserakahan, nafsu, rasa serba tak cukup, watak api -- itu jelas watak utama iblis yang diajarkan kepada manusia. Dan ajaran itu tidak hanya bisa merasuk ke jiwa Soeharto, tapi juga bisa ke Wagimin, Megawati, Tukijo, Amin Rais, organisasi dan kumpulan-kumpulan, atau apapun. Bahkan niat baikpun bisa menjelma jadi napsu.

Cukup banyak bukti bahwa di negeri ini kita tak memerlukan ajaran iblis lagi untuk ‘sekedar’ berlaku rakus kepada dunia. Sehingga, sebagaimana Adam melorot derajatnya dari sorga ke bumi, kitapun melorot izzah (kehormatan) kebangsaan kita dari kemewahan ke krismon dan kristal (krisis total). Kita kutuk penjarahan oleh rakyat sesudah sekian puluh tahun kita ajari mereka menjarah. Kita laknat kerusuhan oleh rakyat sementara terus menerus kita rusuhi hati mereka, pikiran mereka, telinga mereka, dengan kerusuhan mulut dan sistem budaya kita.

***
Iblis tidak pernah merasa dirinya benar, dirinya baik, dirinya suci. Sementara kita memiliki kecenderungan yang sangat besar untuk merasa benar, merasa baik dan merasa suci -- sehingga orang lain yang kita tuduh harus bertobat -- itupun kita larang ia bertobat. Padahal kita ketakutan setengah mati kalau ia tidak bertobat sehingga mengamuk.

Dalam hal melarang manusia bertobat, kita sama dengan iblis. Tapi dalam hal memahami konsep tobat, iblis unggul dari kita. Kita tidak tahu bahwa pertobatan kepada Allah dipersyarati oleh keberesan masalah dengan sesama manusia. Artinya kalau punya hutang, harus bayar dulu; kalau bersalah, dihukum dulu oleh manusia, baru Allah membuka pintu ampunannya. Kita tidak tahu itu, sedang iblis tahu persis.

Iblis, sesudah menggoda manusia dan menjerumuskannya agar dibakar oleh kobaran api dari dalam napsunya sendiri, berkata kepada Tuhan: “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku sendiri takut kepadaMu...”. Sementara pada kita sangat sedikit indikator bahwa kita takut kepada Tuhan. Kita berani mengabaikan pembelaan Tuhan atas rakyat kecil. Kita bisa mendustai mereka berpuluh tahun.

Kita bahkan sanggup menyalurkan bantuan makanan kepada rakyat sambil mencopetnya. Kita tega mengumum-umumkan obsesi pribadi kita akan kekuasaan di depan rakyat yang sangat mengalami kesulitan hidup. Kita bisa dengan ringan menutup telinga bahwa bagi rakyat hanya tiga hal yang prinsip: hidup aman, sembako murah, bisa menyekolahkan anak.

Tentang presidennya siapa, silahkan mau Kirun mau Timbul. Dalam hatinya rakyat berpedoman: yang penting bukan ‘siapa’nya, melainkan apa produk positifnya untuk kesejahteraan rakyat. Mohon bikin metodologi riset atau jajag pendapat yang bertanggung jawab terhadap kandungan substansial kemauan rakyat banyak, bukan hanya omongan beberapa puluh orang di sekitar kantor kita.

***
Iblis dan setan, sesombong-sombongnya mereka, setakabur-takaburnya mereka, seratus persen sadar bahwa mereka melakukan kejahatan dan perusakan. Mungkin karena itu tidak kepada iblis dan setan, melainkan kepada manusia, Tuhan memberi peringatan: “Janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi”, dan manusia menjawab dengan congkak: “O, tidak, yang kami lakukan ini adalah perbaikan...”

Kalau Tuhan menyebut “orang-orang yang membangun”, kita merasa itu pasti kita. Kalau Tuhan bilang “orang-orang yang merusak”, kita yakin merekalah yang dimaksud oleh Tuhan itu. Yang buruk pasti mereka, yang baik pasti kita.

Padahal manusia dijadikan mandataris kehidupan alam semesta dengan argumentasi bahwa manusia itu dholuman jahula. Lalim dan bodoh. Artinya, manusia sanggup menjadi pemimpin karena modal utamanya adalah rasa bersalah telah berbuat lalim, belum bisa menolong orang lain, sehingga ia senantiasa mendorong diri untuk berbuat sebaik-baiknya. Modal utamanya adalah sanggup merasa bodoh, tidak pinter, tidak unggul dari siapapun -- sehingga ia selalu berendah hati untuk belajar.

Last but not least, tidak ada ceritanya masyarakat iblis dan setan bertengkar satu sama lain, sebagaimana kita manusia selalu dan terus menerus bertengkar memperebutkan khayal masing-masing, mempertahankan benernya sendiri (kefir’aunan) terus menerus, memerlukan kehinaan saudaranya sendiri untuk mendapatkan kejayaan, membutuhkan kehancuran sesama manusia untuk memperoleh yang ia sangka kehormatan.

Walhasil Indonesia benar-benar tidak butuh iblis atau setan, sebab potensialitas keiblisan, kesetanan dan kefir’aunan kita, pada sejumlah hal, sudah melebihi setan, iblis dan fir’aun yang asli.

Mudah-mudahan saya keliru.


source : dari berbagai sumber


posted by Blogger Bukan Hacker

Readmore ... Selengkapnya ... »»