Menumpas Jaringan 'Terorisme' muka baru



Share
Terorisme muka baruWawancara Ekslusif tentang pemberantasan Jaringan Terorisme muka baru di Indonesia setelah Noordin M Top tewas dalam operasi Tim Densus 88 di Solo, disusul Syaifudin Zuhri beserta kakaknya Syahrir yang juga meninggal dunia dalam penggerebekan Teroris di Ciputat Tanggerang.

Pengamat Terorisme Noor Huda Ismail alumni Pesantren Ngruki Solo Jawa Tengah tahun 1991 lulusan UGM Yogyakarta dan selanjutnya mengambil Master di University of St.Andrew di Skotland.

Noor Huda Ismail, mantan asisten biro Jakarta harian The Washington Post, namanya mencuat belakangan ini karena sebagai alumnus pondok pesantren Ngruki, ia banyak menulis soal Jamaah Islamiyah, beliau juga pakar tentang isu-isu keamanan di Asia Tenggara. Kalau tidak salah tulisan terbarunya akan muncul hari ini di harian Jakarta Post.

Dalam wawancara bersama Tina Talisha beliau mengupas masalah 'Terorisme' (Jaringan Ikhwan) di Indonesia, mungkinkah ada kelompok teroris baru yang kemampuannya sama atau lebih hebat dari Noordin M Top ? Adakah pengganti Noordin M Top ? ‘Teroris Muka Baru’ harus diwaspadai. Beliau memandang dari presfektif yang lebih fair, tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Tunas baru tidak akan muncul kalau akar permasalahannya (pull and push factor) dapat 'diselesaikan'.


video


video

Tewasnya sejumlah 'tokoh penting' dalam penggerebekan Densus 88, diklaim oleh pengamat terorisme Noor Huda Ismail bukan akhir dari ancaman 'teroris' di Indonesia (yang menaikkan rating beberapa media besar lewat pemberitaan berlebih).

Noor Huda Ismail mengemukakan hal tersebut saat berbincang dengan okezone, Sabtu (10/10).

"Setidaknya kita harus belajar dari pengalaman bom Marriott. Hampir semua orang, polisi termasuk saya terpaku pada nama yang sudah terkenal. Tapi nyatanya muncul tokoh baru seperti Syaifudin Zuhri atau Ibrohim," ungkapnya.

Sebab itu, dengan tewasnya Dr. Azhari, Noordin M Top dan sekarang Syaifudin bukan bukan berarti, menurutnya, 'terorisme' di Indonesia mati.

"Memang efeknya sangat melemahkan, tapi kita belum tahu jaringan langsung atau tidak langsung di bawah Noordin. Yang punya kemampuan merekrut dan merakit bom masih berkeliaran," terang Noor, santri jebolan Pondok Pesantren Ngruki.

Noor pun mengungkapkan bahwa kemungkinan adanya sel baru hasil rekrutmen sebelumnya ini memang cukup sulit untuk dipastikan, meski potensinya tetap besar pula. Pasalnya, dengan tewasnya aktor utama dalam setiap penggerebekan maka informasi penting untuk mengetahui adanya penerus dari kelompok Noordin ini terputus.

"Saya menyayangkan kenapa Tim Densus 88 tidak menangkap hidup-hidup mereka. Jadinya informasi yang selama ini dimunculkan versinya polisi," kritik Noor yang kini menjabat sebagai Direktur The International Institute for Peacebuilding, sebuah lembaga internasional untuk penegakan perdamaian.

Saat ditanyakan bagaimana kemungkinan Dul Matin dan Umar Patek yang masih berkeliaran kembali turun gunung, kata pakar terorisme yang meraih gelar MA (Master) di St Andrews University, Skotlandia ini, kemungkinannya kecil. "Mereka lebih aman di Filipina, gabung dengan Abu Sayyaf sekaligus mendapat perlindungan. Kalau ke Indonesia bisa langsung terendus," imbuhnya.

Kata Noor, operasi 'teroris' dengan sistem jemaah ini sangat memungkinkan untuk mempersiapkan kepemimpinan berkutnya.

Hal itu juga diperkuat dari Isi Laptop Noordin M Top yang diklaim kepolisian ditemukan saat menggrebek Noordin yang menunjukan adanya struktur organisasi terkait dengan Al Qaidah, di mana belakangan Syaifudin Zuhri diketahui menduduki posisi penting. (okz/arrahmah.com)

2 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Ridwanox said...

patah tumbuh hilang berganti ya gitu deh kang,hmm kang saya mhn dukungannya :D lgi nyoba ikut kontes ;))

Seti@wan Dirgant@Ra said...

makasih atas sharingnya,... kita harus tetap senantiasa waspada.

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...