Best winner isn’t best writer



Share

Best winner isn’t best writer. Seorang juara menulis dalam sebuah lomba bukan berarti dia adalah yang terbaik. Pastinya. Apalagi pemenang lomba yang ruang lingkupnya masih terbatas. Belum kelas nasional bahkan mungkin international.


Bahkan seseorang yang sering menjawarai lomba atau bahkan bukunya best seller sekalipun tidak menjamin dia adalah seorang best writer. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Itu pasti. Dan orang menggunakan kelebihan dan kekuranganpun pastinya dengan cara yang berbeda-beda.


Aku tidak akan membahas orang lain. Mungkin yang aku bahas di sini adalah diriku sendiri. Pernah menjuarai lomba menulis yang diadakan Mbak Roseheart, bukan berarti akulah yang terbaik seantero blog Indosiar ini dalam penulisan cerpen. Apalagi pemenangnya lewat voting. Akan ada unsur subjektif tentunya. Kekuranganku?


Banyak pastinya. Kalaupun misalnya aku ikut lomba di ajang yang lain, tidak akan menjamin aku sudah “matang” dengan hanya memenangkan lomba cerpen dua kali berturut-turut di Indosiar. Masih jauhlah. Di dunia nyata sana begitu banyak penulis-penulis handal. Mereka yang tahu banyak tentang cara penulisan yang baik, yang sudah berpengalaman. Banyak sekali. Ini bukan bentuk pesimistis. Ini untuk cambuk bagi diriku sendiri untuk lebih baik. Untuk bisa belajar banyak hal.


Aku akan mencontohkan dari luar dunia penulisan, seorang best actor (misalnya untuk FFI). Ketika dia meraih penghargaan itu, apakah dia aktor yang terbaik seantero jagat Indonesia ini? Apalagi yang memilih adalah juri-juri yang kompeten.


Jawabannya adalah tidak. Untuk peran dalam film yang dimainkan saat itu dia adalah yang terbaik. Tetapi belum tentu dia akan terbaik juga memerankan tokoh yang berbeda. Dan walaupun dia terbaik saat itu, bukan berarti memang dialah aktor paling terbaik. Seandainya peran diberikan pada aktor lain mungkin saja hasilnya akan lebih baik lagi. Terbaik bukan berarti berpuas diri.


Dari beberapa cerita tentang penulis-penulis ternama yang aku baca atau dengar, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Ada seorang penulis bernama Mas Joni Ariadinata. Sudah ratusan tulisan yang dikirimkannya. Tetapi tidak ada satupun yang dimuat. Putus asa ? Beliau memang pernah merasakan itu.


Sempat berfikir untuk berhenti menulis. Tetapi ketika dia berniat seperti itu ada tulisannya yang di muat, Membuat semangatnya kembali menyala. Mungkin kalau kita yang ada di posisinya, maksimal 10 tulisan sudah down duluan. Sudah merasa pesimis. Ah, mungkin aku tidak berbakat. Itu yang akan terbersit hati. Kita akan sibuk mencari-cari cara untuk “menyalahkan” diri sendiri. Padahal yang seharusnya kita lakukan adalah berusaha mencari kekurangan kita, berusaha memperbaikinya dan berusaha menulis, menulis dan menulis lagi.


Ada
juga ungkapan Mbak Asma Nadia,

Saya berusaha terus berproses, mengasah kreativitas. Banyak membaca dan berkaca pada pengarang lain di luar sana yang hebat-hebat. Saya perlu merasa tidak berarti dan belum apa-apa. Sebab ketika seorang penulis merasa cepat puas dan sudah hebat, dia akan berhenti memproses diri. Jika ini terjadi, maka kreativitas telah mati. Dan penulis terjebak untuk membuat pengulangan-pengulangan. (Dikutip dari Buku sakti menulis fiksi-Annida)


Hampir tidak ada penulis besar di dunia ini yang berhasil secara instan. Mereka semua selalu bergelut dengan proses yang tiada henti. Terus berlatih, berlatih dan berlatih. Kiat tinggal hanya kita kalau kita nggak ambil pena dan menggerakkannya. Penulis Amerika yang memperkenalkan gaya penulisan yang unik Gertrude Stein, mendefenisikan arti menulis dengan : Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis. (Dikutip dari Buku sakti menulis fiksi-Annida)


Dalam kita berkarya, baik dalam pekerjaan apapun, pasti akan ada kritikan. Baik itu kritikan pedas atau biasa saja. Apakah kritikan itu akan membuat kita langsung down? Kita harus berbesar hati dengan kritikan, kalau mau karya kita lebih baik lagi. Sesempurna apapun pastilah akan ada kekurangan kita. Pasti adalah celah yang bisa di jadikan bahan kritikan oleh para kritikus. Tidak ada karya yang sempurna. Kritikan-kritikan akan berguna untuk proses menuju langkah yang lebih baik.


Best winner isn’t best writer
. Seratus kalipun aku menang juara penulisan tidak akan mengukuhkan aku sebagai best writer. Seorang penulis fiksi yang hebat belum tentu dia akan hebat juga ketika ditantang menulis non fiksi.


Begitu juga sebaliknya. Menurutku best atau tidak itu hanyalah gelar-gelar yang ada dalam ajang penghargaan. Tanpa mengecilkan arti sebuah penghargaan, namun seorang yang meraih penghargaan dalam menulis misalnya, pemenangpun bukan berarti merekalah yang terbaik. Mereka memang terbaik dalam kategori yang mereka menangkan, namun bukan berarti mereka terbaik di antara penulis-penulis yang ada dengan kategori yan sama. Tidak ada manusia yang sempurna, namun berusaha menjadi yang terbaik dan bekerja keras menjadi yang terbaik itu pasti ada.


Kontributor
: Dees4n

0 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...