Amrozi Imam Samudera



Share
Nama Amrozi melambung ketika polisi menangkapnya sebagai tersangka peledakan bom di Legian, Kuta, Bali. Tidak hanya di tanah air, tapi juga sampai ke mancanegara, karena kasus peledakan bom yang menewaskan ratusan orang itu merupakan berita besar. Andil Amrozi yang bersama Imam samudera dan muklas terlibat dalam kasus itu adalah membeli bahan peledak di Toko Tidar Kimia di Surabaya. Tapi, pengacaranya tak percaya, bahan itu dipakai untuk meledakkan.

Di Bali, Amrozi membeli sepeda motor Yamaha F1 ZR merah di suatu dealer di kawasan Denpasar. Belakangan, motor itu diketahui oleh salah seorang saksi, dituntun laki-laki berambut pendek -Ali Imron, adik Amrozi- masuk ke dalam suatu rumah di kawasan Jalan Pulau Ceningan, pada 13 Oktober2002. Di sepeda motor itu, juga ditemukan bom, tapi tidak sempat diledakkan.

Amrozi, 39 tahun, adalah warga Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur. Di daerah yang sama, Amrozi lahir pada 6 Juni 1963. Ayahnya, H Nur Hasyim, selama 32 tahun bekerja sebagai sekretaris desa alias carik -jabatan terpandang bagi warga desa. Ibunya, Hj Tariyem, ibu rumah tangga. Ia tumbuh sebagai remaja yang doyan kebut-kebutan, selepas pendidikannya di SMP Korpri Paciran, Lamongan. Saat teman-teman sekolahnya di Madrasah Aliyah Lamongan, hanya bisa pakai sepeda ke sekolah, Amrozi sudah mengendarai motor. Amrozi yang suka memelihara rambut gondrong juga sering cangkruk di warung kopi daripada mengaji di masjid. Karena suka keluyuran itulah, Amrozi drop out dari madrasah aliyah ketika masih kelas dua.

Kesukaan lain Amrozi adalah menembak burung bersama Qomaruddin - pensiunan polisi hutan Dadapan, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Walau demikian, kata Qomaruddin, Amrozi adalah sosok yang sopan dan sering menyapa orang. Keahlian Amrozi memperbaiki motor, menuntunnya untuk mengikuti kursus montir di Surabaya dan akhirnya mendirikan bengkel bersama Ali Imron.

Dengan wajahnya yang ganteng, gaul, dan anak seorang carik, Amrozi banyak dikagumi gadis di desanya. Pada 1985, saat berusia 22 tahun, Amrozi menikah dengan Rochmah, si kembang desa Sugihan, Solokuro. Pasangan ini dikaruniai anak, Mahendra. Tapi, pernikahan itu hanya bertahan satu setengah tahun, lantaran Amrozi tidak pernah memberi nafkah sehari-hari. Rochmah pun meminta cerai kepada Amrozi.

Tak lama menduda, pada 1990, Amrozi menikah dengan Astuti, gadis asal Desa Pelirangan, Solokuro. Pernikahan ini pun tidak berlangsung lama. Setahun kemudian, ia pergi merantau ke Malaysia. Di sana ia ikut kakaknya, H. Ghofur, di Johor, Malaysia. Tapi, istrinya, Astuti, tak yakin suaminya ke negeri jiran untuk mencari ringgit. Karena ditelantarkan dan tak diberi nafkah, Astuti jgua minta cerai. Pada 1993, mereka resmi bercerai.

Pulang ke Lamongan, 1999, Am -panggilan akrab Amrozi- tampak alim walau gaya pakaiannya tak berubah: mbois. Tapi, kemudian ia mulai jarang bergaul. Saat berada di rumah, waktunya dipergunakan untuk membaca buku-buku agama. Tahun itu juga, Amrozi menikahi Choiriyana Khususiyati asal Kabupaten Madiun, yang ia kenal di Malaysia. Tidak memiliki rumah sendiri, ia dan istrinya tinggal bersama ibu dan bapaknya. Di bangunan yang terbuat dari kayu jati bercat biru muda, berukuran 7 x 10 meterpersegi, itu tidak ada perabotan istimewa. Di sebelah kiri rumah induk, ada bangunan lain berupa bengkel sepeda motor.

Amrozi begitu sadar arti penting komunikasi, sehingga walau tinggal di desa yang cukup terpencil di pesisir pantai utara Pulau Jawa, dirinya memakai selueler. Bahkan, dirinya ahli menyervis seluler dan membuat antenanya. Amrozi juga punya alat komunikasi berupa alat penyeranta (pager). Pesawatnya berwarna putih agak kusam dengan merek Motorola. Pada bagian untuk melihat pesan sudah banyak terdapat goresan. Tapi, rantai pager yang biasanya dicantolkan ke ikat pinggang, tetap ada walau sudah sedikit berkarat. Pihak operator pager adalah Nusapage, dengan nomor operator 13055, di Jalan Jemursari, Surabaya. Nomor pesawat pager Amrozi itu adalah 609358. Tapi, pesawat itu sudah diblokir sejak 31 Agustus 2002. Dengan penyeranta itu, Am bisa mempermudah aktivitasnya sehari-hari. Ketika sedang cangkruk (nongkrong) bersama teman-temannya, atau sedang berjalan-jalan, pager itu sering berbunyi. Karena sering berbunyi, sampai-sampai Am sering dijuluki sebagai orang penting dan sibuk.

Terakhir, Am punya bisnis jual-beli seluler atau handphone. Ia sempat mengajak Ustadz Zakaria, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Islam, Solokuro, untuk menanam saham. Tertarik ajakan Am, ustadz kemudian memberinya uang Rp. 10 juta. Sayangnya, kini Am tak lagi bisa melanjutkan bisnisnya -yang katanya maju- itu. Ia terpaksa mendekam di tahanan, sebagai tersangka aksi peledakan yang menewaskan 186 orang di Bali.


Gaul di Antara Para Santri
Gambaran Amrozi di pemberitaan media saat bertemu dengan Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar, meruntuhkan gambaran seram yang sempat tertanam di benak orang. Pria jebolan SLTP itu sama sekali tidak terlihat sebagai pembantai 186 orang pada peristiwa bom Bali lalu.

Amrozi adalah anak keenam dari delapan bersaudara. Tujuh saudara kandungnya adalah Alimah, Afiah, Khozin, Ja'far Sodik, Ali Gufron, Amin Jabir (almarhum) dan Ali Imron. Selain tujuh saudara kandung, Amrozi memiliki lima saudara tiri, dari pernikahan ayahnya dengan Tarmiah. Kelimanya adalah Tafsir, Tasrifah, Sumiah, Naimah dan Ali Fauzi. Sebenarnya Khozin adalah salah satu sosok terpenting dalam keluarga besar ini. Sebab Khozin-lah yang mewujudkan harapan keluarga ini, mendirikan kembali Pondok Pesantren keluarga, pada 1993. Kabarnya, kakek Amrozi terpandang di masyarakat karena pernah memimpin pondok pesantren besar dan terkenal. Tapi, entah mengapa, pondok pesantren itu bubar.

Lantaran tak satu pun dari anggota keluarga yang berlatar belakang pendidikan pondok pesantren, Khozin kemudian meminta bantuan Ustad Zakaria, alumni Pondok Pesantren Ngruki untuk memimpin dan mengelola. Tentu saja pola pendidikan model Ngruki diterapkan di Al-Islam, Tenggulun. Begitu pun kuliah umum bagi santri diberikan oleh Ustad Abu Bakar Ba'asyir, yang sebagaimana lazimnya masyarakat pedesaan, lantas menjadi sumber panutan dan rujukan bagi para santri dan keluarga santri di Tenggulun. Amrozi, adik Khozin, yang dikenal mbeling (nakal) dan juga bukan lulusan pesantren ini besar di tengah-tengah situasi itu.

Dari 13 bersaudara itu, yang aktif di Pondok Pesantren Al-Islam -didirikan pada 1993- adalah Khozin dan Ja'far Sodik (keduanya pendiri), Ali Imron (adik kandung Am, pengajar di Al-Islam)) dan Ali Fauzi (pengajar juga). Amrozi tidak cukup aktif. Gufron yang tinggal cukup lama di Malaysia disebut-sebut juga sering ke pesantren itu sejak datang dari Malaysia, 2001. Tapi, Gufron yang kini juga dicari polisi, tidak lagi menampakkan batang hidungnya.

Berbeda dengan lima saudaranya yang aktif terlibat di pesantren, Amrozi tidak memiliki tempat khusus di dalamnya. Seperti dikatakan Zakaria, Amrozi bukan santri, bukan alumnus, bukan pengurus atau pengajar di sini, dan juga bukan lulusan pondok pesantren mana pun. Dalam pandangan ustad lulusan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Jawa Tengah, 1992 itu, penghayatan Amrozi mengenai Islam, tidak istimewa. Ukurannya sederhana saja, Amrozi tidak pernah hadir shalat berjamaah saat subuh dan isya. Untuk waktu shalat lain, Am pun sering terlambat. Penghayatan Islam yang dinilai tanggung itu pun masih lebih baik dibanding sebelumnya, ketika Amrozi dikenal sebagai pemuda yang mbeling.

Di Pondok Pesantren Al-Islam yang memiliki 150 santri itu, Am sering bertandang untuk shalat berjamaah saat berada di rumah yang jaraknya sekitar 500 meter dari pesantren itu. Sementara itu, di benak para santri yang beberapa kali bertemu dengan Amrozi, sosok pemuda berambut hitam lurus itu adalah sosok pemuda yang keren dan gaul. Jika shalat Dhuhur di pondok, Am mengenakan celana hawai. Di kalangan santri putri, Am juga dikenal karena kegantengannya. Tidak heran, Am sering bergonta-ganti isteri.

Dilihat dari latar belakang keluarga, keluarga Amrozi termasuk keluarga terpandang di desanya. Ayah Am yang saat ini hanya bisa terbaring lantaran stroke adalah mantan sekretaris desa (carik) puluhan tahun. Kakeknya seorang kiai pemimpin pesantren di desa yang sangat terpandang dengan jumlah santri banyak. Lagi-lagi, entah mengapa kejayaan keluarga besar Am surut tanpa alasan jelas. Satu-satunya harapan, yaitu Ja'far Sodik yang menjadi carik, dalam beberapa tahun pun dilengserkan oleh pembantu bupati Lamongan karena desakan warga desa, 1996. Ja'far Sodik tersandung pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan dipenjara dua bulan.

source : tempointeraktif

2 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Pak R T said...

hmmmm,....lg ga ada ide suhu?

RIO2000 said...

kalo akhirnya amrozi Insya Allah masuk surga bagaimana ? :D

happy ending buat amrozi dong :D

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...