Indonesia Jangan Terlalu Jadi Anak Manis Dunia Barat



Share
Indonesia Jangan Terlalu Jadi Anak Manis Dunia BaratDensus 88 yang main tembak mati para tersangka Teroris Cikampek, saya rasa bukan suatu prestasi, tapi sikap prustasi atau bahkan ketakutan yang berlebihan menghadapi bahaya Terorisme di Indonesia.

Terorisme bukan sekedar sebuah jaringan, lebih dari itu ia adalah kejahatan ideologi sehingga ia hanya mungkin diperangi dengan ideologi (Counter Ideology) bukan diperangi dengan moncong senjata dan 'Dibunuhi'.
Persoalan terorisme di Indonesia amat terkait dengan ideologi yang dianut pelakunya. Pemberantasan terorisme melalui pendekatan legal formal, seperti operasi polisi, tidak akan efektif memupus ideologi tersebut. Meski demikian, jika ada intervensi khusus dari negara, setidaknya faham penggunaan kekerasan oleh kelompok radikal dapat diperlunak.

Demikian rangkuman pembicaraan dengan Buya Syafii Ma'arif dan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komarudin Hidayat di Jakarta, Kamis (11/3), serta hasil penelitian psikolog asal Universitas Indonesia, Sarlito Wirawan Sarwono, yang berjudul Program Re-edukasi untuk Para Tahanan atau Napi Teroris (1 Oktober 2009).

Dari penelitian Sarlito terhadap 44 tahanan dan narapidana perkara terorisme terungkap, ideologi yang dianut mereka sudah terbilang "harga mati". Prinsip ini khususnya dianut napi/tahanan yang tergolong papan atas dalam aktivitas gerakan mereka. Salah satu contohnya ada Abu Dujana.

Meski demikian, Sarlito menyebutkan, jika pada tataran ideologis sulit ditembus, para napi/tahanan terorisme itu masih bisa diajak berdiskusi pada isu tataran aplikatif-operasional, misalnya soal membunuh, mengebom, atau penggunaan kekerasan lainnya. Dengan begitu, pada tahap ini, para napi/tahanan itu mulai dapat diajak berpikir kritis terhadap berbagai hal. Sebab, tidak adanya kemampuan berpikir kritis menyebabkan mudah sekali seseorang terjebak dalam aliran yang ekstrem dogmatis.

Syafii mengingatkan masyarakat agar jangan lengah terhadap kelompok teroris. Namun, bangsa ini juga jangan lengah terhadap ketidakadilan dan kemiskinan yang menjadi akar dari munculnya terorisme di Indonesia
Pemerintah Indonesia selayaknya tidak terlalu menunjukkan diri sebagai anak manis dunia barat terkait 'prestasi' sepak terjang menembak mati seenaknya orang-orang yang terindikasi sebagai teroris. Walaupun memang Polri layak mendapat apresiasi.

"Harus diingat juga bahwa selama ini barat sudah terlalu banyak bertindak sewenang-wenang terhadap dunia timur. Termasuk di negara-negara berpenduduk mayoritas memeluk agama Islam," kata Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Achmad Basarah di Jakarta, Sabtu (8/5).

Realitas itu, menurutnya, secara langsung atau tidak langsung telah menyakiti masyarakat Indonesia yang juga mayoritas umat Islam.

Basarah yang juga Sekjen Presidium Pusat Persatuan Alumni (PPA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mendesak pihak berwajib segera mengoreksi kebijakan penanganan terorisme.

"Hanya dengan security approach saya yakin kurang efektif untuk menuntaskan. Untuk mengatasi akar permasalahannya, penanganan terorisme juga harus dengan pendekatan kebudayaan, baik nasional (nilai-nilai ke-Indonesiaan dalam ideologi Pancasila) maupun norma-norma universal global," katanya.

3 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


heryanto said...

ya nih maen tembak mati aja, jangan2 densus88 hanya jadi pembunuh bayaran barat?

Anonymous said...

Polisi cuma bisanya gitu doang boss, apalagi nilai jual dan prestasinya kalo bukan nembakin rakyatnya yang disangka teroris.

Anonymous said...

wah , tetangga ane tuh boz yg kmaren di satroni....

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...