' Ngelmu Mbudeg ' Ala Jogeg Dangdut



Share
Tidak ada tokoh yang susah dipahami melebihi Ndoro, dan tak ada orang yang paling susah memahami ndoro melebihi umat ndoro sendiri. Kemudian amma ba'du, tak ada makhluk yang paling cuek untuk dipahami ataupun tak dipahami, the heavy weight champion.

Omongannya aneh-aneh, sepak terjangnya membuat orang di sekitarnya atau jutaan yang lain di pelosok menjadi blingsatan. Ketua 'ketoprak musik' berbicara dengan bahasa langitan yang bisa diartikan sesuai dengan keinginan kita masing-masing. Sodoran Bola Liar yang disodorkannya ... bebas anda giring ke daerah lawan atau malah anda masukkan ke gawang anda sendiri alias 'bunuh diri'.

Memang, domisili ndoro yang mblunat ini di fokus panggung pentas sejarah ranah blog di negeri ini. Maka setiap tetes keringatnya, termasuk sapuan bau ketiaknya, menelusup ke telinga setiap umat : umat yang langganan untuk diajak memperjuangkan segala sesuatu di segala bidang yang sifatnya nasional, serta langganan untuk dipanggang sesudah sesuatu itu tercapai dan kemapanan terkukuhkan.

Ndoro ini tentu tergolong tahu nasib langganan itu, jadi ia lakukan hal yang seolah-olah atau sungguh-sungguh penuh syubhat. Ini bukan sekadar karena setiap metode pandang senantiasa kewalahan merumuskan dahsyatnya komplikasi permasalahan umat ini.

Karena sedemikian kompleknya permasalahan itu, maka tak seorang tokohpun tak merasa bingung dari mana memulai antisipasi.
Dalam keruwetan semacam itu adalah ndoro yang tampak paling progresif untuk ber-istiqomah dengan persepsi, keyakinan dan keputusan-keputusan politis, ekonomis dan kulturalnya ; sambil mengandalkan ngelmu mbudeg, alias menulikan beberapa klep pintu telinganya , mudah-mudahan tidak sekalian pintu hati nuraninya.

Beberapa langkah politisnya yang non-politis atau langkah non-politisnya yang politis sering dinilai sebagai gegedhen pantek tinimbang cagak. Lemparannya merconnya walaupun menyenggol umatnya atau menginjak-nginjak bahkan sampai membunuh 'fsikis' mungkin diartikan dari konsekuensi logis sepak terjang ndoro effect.

Kita yang hanya karateka ban kuning sulit mengartikan Ajian Jaran Goyang para pakar dan pendekar mumpuni. Mungkin mereka memakai teori walayah. Yakni teori tentang 'wali' seorang yang nglakoni.
Tingkat 'ilmu' dan 'kepiawaian' ndoro saya kira sudah sangat memadai. Dalam arti metode-metode baku penilaian dan penglihatan umum sudah tidak sanggup lagi menembus hakikat realitasnya yang sejati. Saya akan coba berusaha untuk tidak salah memahami, sedikit memahami atau malah 'pergi'.

Mudah-mudahan joged saya tidak senggol pantat orang apalagi sampe injak-injak ndas, sebab setiap saat kita menapaki 'mudah-mudahan' berlanjut ke 'mudah-mudahan' berikutnya.
Kita tidak bisa menyimpulkan suatu tindakan hanya dari pemenggalan waktu ketika tindakan itu dilakukan ; ketepatan penilaian memerlukan berbagai perangkat konteks dari masa silam dan masa datang.

Kita orang pinggiran kota atau di pelosok dusun tidak bisa cukup cepat memahami fisibilitas transaksi-transaksi jual beli atau perniagaan sejarah yang diselenggarakan oleh ndoro.
Pada skala makro sudah menjadi pemahaman kita bersama bahwa strata terisap maupun si penghisap sama-sama mengucapkan doa "tanpa dosa" dalam shalat-shalat mereka.

Tapi kalo ndoro gampang dipahami, level ke waliannya jadi turun . Jadi saya anjurkan untuk segera menelurkan hal-hal yang sulit dipahami dan dimengerti orang banyak. Serta jangan lupa tetap konsisten dan istiqomah dengan Ngelmu Mbudeg. Supaya kelak saya tidak segan lagi menyebut ndoro Waliyullah yang Muttafaqun Alaih

source : YK 9 Juni 1990

5 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


papapam traffic said...

pertamax...dunia blogger tambah panas..penuh ilok mengilok (opo toh yo ilok mengilok kuwi) * mlayu ae..*

popsy said...

Vox populi Vox Dei, bung kopi :D

Andy MSE said...

nek ngelmuku yoiku ngelmu ndagel...

rizky said...

aQ pilih yang damai aja...
dan sekarang aQ mao pergi

Indah said...

Ngelmu cari duit ada gak?kl ada aku mau....jgn ngelmu cr musuh aja...gk usah ngelmu kl itu udah naluri....

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...