Ganyang Malaysia tapi Selamatkan Siti Nurhaliza !



Share
Ganyang MalaysiaJustru karena Indonesia dan Malaysia sedang tak enak hati. Orang Indonesia uring-uringan soal Lirik Lagu Indonesia Raya / Syair Lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang katanya dilecehkan sebuah situs ... Tari Pendet Malaysia “Rasa Sayange”, Reog Malaysia “Reog Ponorogo”, “Batik” dll.

Malaysia dianggap ‘ngelunjak’, angkuh, merendahkan, bahkan semua warga kita yang di Malaysia kebal dengan sebutan “Indon” bagi setiap orang Indonesia.

Malaysia sendiri juga punya perasaan yang sama. Heran kenapa Blogger Indonesia marah-marah. Pejabat-pejabat di sana mengeluh bahwa pers Indonesia terlalu membesar-besarkan masalah.
Seorang anak muda, dalam acara “Kongres Budaya Serumpun” mengatakan : “Bangsa Indonesia bersikap seperti itu karena pendidikannya lebih rendah dari bangsa Malaysia”.

Sebenarnya agak malas, tetapi saya langsung jawab ketika itu: “Please don’t ever ever ever say such a word again…“. Apalagi kalau pas di Indonesia, kalimat itu jangan pernah ucapkan itu.

Saya tidak tergerak untuk membantahnya, meskipun budayawan senior Baharudin Zainal kemudian setengah mati memaparkan: Saya dibesarkan secara intelektual di Indonesia. Harsya Bachtiar, Umar Kayam, Goenawan Muhamad, Taufiq Abdullah dll bukan hanya sahabat-sahabat saya, tapi juga inspirator dan guru-guru kita semua.

(EAN 2007)
Dalam konteks pencapaian intelektual, kebudayaan dan karya seni, Indonesia sama sekali bukan tandingan Malaysia. Secara keseluruhan bahkan Indonesia adalah gurunya Malaysia…”

Saya sendiri tidak akan membela diri seperti itu. Andaikan dikejar kenapa saya bilang “do not ever say that again”, saya akan jawab: ke manapun pergi, saya selalu belajar dan berguru. Apalagi ke Malaysia. Kalau guru saya merendahkan saya, maka saya batalkan pembelajaran saya, sebab ekspressi superioritas orang lain sudah lebih dari cukup bagi saya untuk merogoh menyerap mencuri dan menelanjanginya sampai ia kopong kosong hampa.

Ada sangat banyak dan cukup panjang soal Indonesia Malaysia ini kalau dituliskan. Banyak segi, dimensi dan nuansa. Ada sejumlah fakta dan data bisa dipakai kalau mau pertandingan keunggulan, dan bangsa Indonesia sesungguhnya tak terlawan oleh siapapun di muka bumi ini kecuali sejumlah kecenderungan seperti ’selengekan’, ‘cengengesan’, ‘iseng’, mbeling, kentir, cuex culun n' metal ... tidak percaya satu sama lain, terlalu permisif dan suka menggampangkan sesuatu.

Kita bisa diskusi tentang Indonesia Malaysia sekian bab. Misalnya kontinyuasi perang dingin dan dendam Melaka-Majapahit. Bab lain tentang Hang Tuah dan Hang Jebat.

Bab lain tentang Kementerian Pariwisata dan Eny Beatric. Bab lain tentang TKI-TKW sebagai representasi Bangsa Indonesia sehingga generasi terbaru Malaysia membayangkan Indonesia itu hutan rimba, suku terasing, kampung-kampung dusun-dusun, uneducated dan uncivilized nation.

Bab lain tentang paradoks antara fanatisme Melayu tapi orientasi kebaratan yang makin meninggi. Bab lain tentang perlunya bangsa Malaysia dikasih data tentang jumlah orang Jawa di tengah bangsa-bangsa dan suku-suku di wilayah Nusantara.

Cukup statistik saja dulu, tak perlu hal Ramalan Joyoboyo atau Syair Ronggowarsito, Gajah Mada Musuhku, filsafat adiluhung, Tari Bedoyo Ketawang, apalagi sampai Tan Malaka, Pramudya Ananta Toer atau BJ Habibie. Juga tak perlu hitung dulu berapa jumlah mall di Kelapa Gading saja, tak perlu seluruh Jakarta, dibanding Kuala Lumpur.

Bab lain tentang hal-hal internal di kandungan kehidupan bangsa Malaysia. Tentang posisi persaingan Melayu melawan etnik Cina dan India. Tentang konstelasi nilai pecapaian akademis mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Malaysia.

Tentang bandingan omset Digi, Maxis dan Celcom yang mencerminkan prestasi managemen pada perusahaan-perusahaan ‘etnik’ di belakangnya. Tentang dangdut dan campur sari dan sejarah etos ekonomi di Chowkit.

Tentang tukang batu tukang kayu Jawa bagaimana gerangan prestasi ekonomi mereka. Tentang peran masa depan TKW bagi anak-anak Malaysia. Tentang bangsa yang menghindari “3D”: Dirty, Difficult, Dangerous….

Tetapi semuanya itu sebenarnya tak perlu diungkap. Kalau SBY punya kalimat yang memenuhi kepiawaian diplomatik sekaligus keindahan budaya dan kearifan rohani, segera semua bisa dieliminir. Kecuali milih seperti Bung Karno: “Ganyang Malaysia !”, meskipun terpaksa kita tambahi “Tapi selamatkan Siti Nurhaliza”.

Atau mungkin bisa duta SBY dan perutusan Pak Lah duduk bersama, kemudian bikin pernyataan bersama. Bangsa Malaysia adalah bangsa yang sebaiknya dipangku disayang oleh bangsa Indonesia.

Soal ribut-ribut hak cipta itu silahkan pilih beberapa jalan berpikir, misalnya: “O, itu orang Jawa Sunda, Bugis, Ambon, Bali sendiri yang berbaju Malaysia yang menggoda Indonesia melalui ‘Rasa Sayange’, Batik, Tari Pendet dll supaya bangsa Indonesia bangun dari tidurnya, marah dan bertindak sungguh-sungguh untuk membangun kembali dan membela martabatnya. Klaim dan godaan itu dilakukan bersumber dari kandungan rahasia rasa nasionalisme anak turun kita sendiri di Malaysia….”

Menantu Rasulullah Muhammad SAW, Ali ibn Abi Thalib, menang duel, musuh tergeletak dengan ujung pedang Ali di lehernya. Si musuh meludahi wajah Ali, sehingga Ali menarik pedangnya, ngeloyor pergi meninggalkan musuh yang sebenarnya dengan satu gerakan kecil bisa ditumpasnya.

Ketika ditanya, Ali menjawab: “Karena diludahi, aku meninggalkannya, karena aku takut gerak ujung pedangku digerakkan oleh amarah, bukan bergerak karena Allah”. Kita tak perlu pergi seperti Ali, sebab kita sangat besar: kita pangku saja Malaysia.

source : dari berbagai sumber

13 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Anonymous said...

weh pusing saya bacanya :(

tp thanx atas ilmunya

pelangi anak said...

Bener Mas Tozie, sebaiknya malaysia "digendong" wae he..he..he....
Thanks & met kenal Mas!

maxall said...

mantap artikelnya,kapan ya bisa nulis kaya gini?di gendong apa di pangku ya?tapi lama lama eneg juga ma malaysia

Just2live said...

Ha ha ha.. Bagooooesss!!! *2 jempol ngapung* :)
Kerenlah tulisannya, memanas tapi dibalut dengan kedinginan. Bagaimana bisa coba Malaysia ngebut pendidikan kita jauh lebih rendah dari dia kalau mereka baca tulisan ini... He he he.. *muji dalam tingkat lebay mode on*

Sukses!

Hendra Lesmana said...

huehehe kadang bertanya pada diri sendiri apa iya ya ada pihak yang memancing di air keruh?, iya memang beberapa peristiwa belakangan memancing rasa nasionalisme kita (kita? elo aja kale...xixi), kadang bertanya apa hal ini diruncingkan media, jika iya pun malaysia melakukan hal tsb itu toh pihak2 tertentu saja di malaysia dan kita gak bisa menjudge semua warga malaysia melakukan hal itu (hehe soalnya beberapa temen orang malay dan mereka sangat menghargai toleransi, bahkan ketika kisruh terjadi kami (saya n tmn saya) masih baik2 saja dan menanggapi kasus ini dengan bijak heuheu...

nah itu siti nurhaleha eh nurhaliza emang jangan diganyang tp digendong aja :)

Rusa Bawean™ said...

ayokkkk Ganyang!!!!!

ayomaju Indonesia said...

"ita tak perlu pergi seperti Ali, sebab kita sangat besar: kita pangku saja Malaysia."

Hebat... bagus artikelnya .... kalau perlu bantuan dalam menyelamatkan Siti Nurhaliza, selalu siap bos....

http://www.nikitawilly.info/2009/09/116-malaysia-website-has-been-hacked.html said...

Kami sebagai warga negara indonesia yang baik akan ikut memeriahkan kemerdekaan negara tersebut dengan cara kami sendiri. Yah tepat cara kami sendiri, Cara kami memeriahkan hari ulang tahun negara tersebut adalah dengan melakukan mass deface terhadap site-site negara tersebut. Berikut list site-site negara tersebut yang telah berhasil kami ambil alih.”

nisa said...

salam
Dr Jemilah kan bantu kamu masa Tsunami
selamatkan Siti saja ya
Waduh biar aku mati juga terima kasih

Alex L. Setiawan said...

Pangku Malysia ..Tunggingin Siti Nurhaliza ..

Anonymous said...

Selamat Indonesia dan selamat Malaysia dari pengaruh-pengaruh asing yang jahat.

dhiifs said...

hehe...menarik artikelnya,sangat inspiratif,thanks

Anonymous said...

"Soal ribut-ribut hak cipta itu silahkan pilih beberapa jalan berpikir, misalnya: “O, itu orang Jawa Sunda, Bugis, Ambon, Bali sendiri yang berbaju Malaysia yang menggoda Indonesia melalui ‘Rasa Sayange’, Batik, Tari Pendet dll supaya bangsa Indonesia bangun dari tidurnya, marah dan bertindak sungguh-sungguh untuk membangun kembali dan membela martabatnya. Klaim dan godaan itu dilakukan bersumber dari kandungan rahasia rasa nasionalisme anak turun kita sendiri di Malaysia….” "
kata-kata saudara itu ada kebenarannya dan membuat saya berfikir sejenak; " Adakah anak turun ini yang tinggal berkurun lamanya di malaysia ini dibenci,dimarahi,dipingir dan diganyang sepuas hati hinggakan benderanya ditaruh nagis. Sedih,pilu dan sungguh trajis. Begitu-rupa pola bangsaku.
Ayuh! bangun, maju dan jangan fikir kita hanya selangkah sahaja dibelakang Amerika atau Jepang. Banyak lagi yang perlu dilakukan untuk kamu,aku dan anak-anak kita dihari muka. Sadarlah dan jangan leka. amir 22/10

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...