Ramalan Joyoboyo



Share
Ramalan Joyoboyo, adalah Ramalan yang berbentuk syair tergantung dari sisi mana kita menafsirkannya seperti masalah jaman yang sedang kita hadapi sekarang menurut Ramalan Joyoboyo. Tapi bukan mau membuat Ramalan Tahun 2012.

Ada banyak orang Jawa yang selalu memperbincangkan ramalan Joyoboyo dan tak kurang dari Permadi SH , seorang paranormal kondang yang juga anggta DPR, Mama Lauren Ki Joko Bodo ataupun Ki Arjuna pasti sudah tidak asing lagi dengan Ramalan Joyoboyo dan Syair Ronggowarsito.
Ada juga ungkapannya mengenai GORO GORO, suatu kerusuhan besar ditanah Jawa yang ditafsirkan sebagai perang saudara dan babat membabat sesama anak bangsa. Barangkali seorang Muslim sejati tidak semena-mena mempercayai hal-hal mistis semacam itu, tetapi bagi orang Indonesia terutama orang Jawa.

Ramalan Joyoboyo sudah lama dikenal seperti juga Nostradamus di Eropa atau Jeanne Dixon di Amerika yang meramalkan pecahnya India menjadi negara Pakistan dan India, meramalkan bahwa Cina akan berubah kenegara bukan komunis, meramalkan kematian tragis Presiden Amerika yang flamboyan dan dikenal sebagai salah satu tokoh abad 20. Ramalan Jeanne Dixon diceriterakan secara rinci jauh sebelum kejadian dan ditafsirkan secara tepat: believe it or not.
Ramalan JoyoboyoJadi ada sifat ramal meramal yang entah apa dasarnya tetapi ada bukti-bukti bahwa paranormal diberbagai negara memiliki intuisi atau kekuatan supranatural dalam melihat hal-hal besar yang akan terjadi.

Dari 10 tahun yang lalu qta sering denger ...
Jaman ini Jaman Edan ...
Ora Edan Ora Keduman ...

Bener gak sech kalo gak ikut edan gak bakal kebagian ?
Aq coba baca literatur Nostradamus ?
Syair Ronggowarsito ?
Bahkan Ramalan Delphi Yunani ...
Tidak lupa bertanya kepada
Dukun Santet dan Ajian Pelet wilayah Garut dan Sekitarnya ...
Baru di Paririmbon Joyoboyo ada sedikit keterangan ...

Inilah jaman edan, inilah peradaban edan. Bila dimasukkan dalam kategori perubahan jaman menurut Ramalan Joyoyoboyo, maka jaman sekarang ini adalah titik puncaknya jaman Kalabendu (jaman kesengsaraan dan keangkaramurkaan).

Joyoboyo membagi jaman menjadi 3 jaman besar yaitu Kalisura, Kalijaga dan Kalisengoro, kita sekarang hidup di jaman ketiga yaitu Kalisengoro. Jaman Kalisengoro terdiri dari 7 proses jaman kecil atau peradaban, yaitu Kalajangga, Kalasekti, Kalajaya, Kalabendu, Kalisuba, Kalisumbaga dan peradaban penutup Kalisurata.
  1. Download Ebook Gratis Ramalan Joyoboyo
Untuk yang malas membaca Ramalan Joyoboyo a.k.a Jayabaya versi Pdf yang bisa anda Download dengan gratis ebooknya diatas, bisa membaca kutipan "Serat Joko Lodang" yang sedikit bercerita Tentang Ken Arok, apakah Joyoboyo juga pernah meramalkan tentang seorang Gajah Mada ?
Arok. Siapa tahu kenakalannya juga turunan yang dikelak kemudian hari akan menjadi orang yang luar biasa. Bagus Burham menjadi murid yang terpandai. Selama 4 tahun dipondok Tegalsari ilmu gurunya sudah terkuras habis. Tidak ada sisanya lagi.

Kyai Imam Besari memuji keluhuran Tuannya. Dia melimpahkan habis ilmunya kepada muridnya. Setelah dirasa cukup maka Bagus Burham kembali ke Surakarta. Oleh tuanya Bagus Burham disuruh langsung ke Demak untuk belajar mengenal sastra Arab dan kebatinan jawa pada Pangeran Kadilangu. Apakah ayahnya punya maksud agar kelak anaknya dapat menandingi kepandaian rajanya ?

Bagus Burham seorang kutu buku yang luar biasa. Dengan bekal kepandaian yang dimiliki dari beberapa guru-gurunya, Bagus Burham kemudian menekuni soal kesusastraan Jawa serta peninggalan-peninggalan nenek moyang. Buku-buku berbahasa kawi kuna ditelaah dan dipelajarai sebaik-baiknya.

Jiwa petualang masih juga membara dalam kalbunya. Dia seringkali mengadakan perjalanan dari satu daerah kedaerah yang lain. Bagus Burham meninjau tempat-tempat yang bersejarah, tempat-tempat yang mengandung nilai-nilai historis, tempat-tempat yang keramat, ke candi-candi dan tempat-tempat penting lainnya. Disembarang tempat dipelbagai daerah kalau
dianggap ada orang yang memiliki kepandaian lebih maka tidak malu-malu Bagus Burham berguru para orang tersebut.

Tidak peduli dia hanyalah seorang juru kunci atau orang biasa. Pada usia 18 tahun sebagaimana
kebiasaan anak priyayi waktu itu ingin mengabdikan dirinya kepada keraton. Caranya haruslah dengan magang (pegawai percobaan) pada Kadipaten Anom.

Jiwa senimannya atau darah kepujanggaannya terasa mengalir deras ditubuhnya. TIdak merasa puas dengan pekerjaan magang tersebut. Maka Bagus Burham mohon pamit sebab dirasa tidak ada kemajuan. Dia ingin mengembara ingin bertualang menuruti gejolak darah senimannya. Hampir seluruh pelosok pulau Jawa telah dijelajahi oleh Bagus Burham.

Bahkan juga luar jawa sepeti Bali, Lombok, Ujung Pandang, Banjarmasin bahkan ada sumber yang mengatakan pengembaraan Bagus Burham sampai di India dan Srilanka. Melihat perjalanan hidupnya seperti tersebut diatas pantaslah kalau Bagus Burham menjadi manusia yang kritis menghadapi suatu persoalan. (Ungkapan perasaannya tampak ada karyanya " Serat Kala Tida ".

Pulang dari pengembarannya Bagus Burham kawin. Karena sang mertua diangkat menjadi Bupati di Kediri maka Bagus Burhampun mengikuti ke Kediri. Ditempat tersebut yang terkenal sebagai tempat bersejarah banyak peninggalan-peninggalan dari jaman terdahulu. Di Kediri pernah berdiri kerajaan besar dimana salah satu rajanya adalah Sang Prabu Joyoboyo.

Waktu sang prabu berkuasa agaknya keadaan negara sangat tenteram dan damai terbukti lahirnya beberapa karya sastra besar. Sang Prabu memerintahkan kepada Empu Sedah dan Empu Panuluh agar menceritakan kembali atau menyusun ceritera BARATAYUDAHA dalam bahasa yang lebih muda diambil dari buku Maha Barata asli dari India.

Demikian indahnya gubahan tersebut sehingga banyak yang mengira bahwa kejadian itu terjadi di tanah Jawa. Sebelum raja Joyoboyo, di Kediri juga lahir hasil sastra yang tinggi mutunya.

Smara Dahana kitab karya Empu Darmaja, juga buku Sumana Sentaka karya Triguna merupakan hasil sastra yang sulit dicari bandingannya. Di daerah yang seperti itu tentu saja banyak peninggalan-peninggalan berupan rontal-rontal yang dimiliki penduduk warisan dari nenek moyang.

Dengan tekun Bagus Burham di Kediri waktunya dihabiskan untuk mempelajari rontal-rontal yang dapat dikumpulkan dari perbagai daerah. Dari rontal-rontal, pengalaman/pengetahuan selama mengembara dan berguru itulah dia dapat menimba pelbagai ilmu.

Baru setelah Bagus Burham berumur 38 tahun mulai produktif dengan karya sastranya. Dan pada tahun 1844 pihak keraton mengangkat menjadi Kliwon Carik dan disyahkan menjadi Pujangga Keraton. Namanya Raden Ngabehi Ronggowarsito dan semakin tenar. Kariernya tidak licin sebab agaknya juga dipengaruhi bahwa orang tuanya (Raden Tumenggung Sastronegoro) dianggap bersalah kepada kompeni Belanda sebab pernah merencanakan akan menggempur benteng Kompeni diwaku jaman pemberontakan Diponegoro (1825-1830). Akhirnya R.T. Sastronegoro dibuang dan makamnya ada di Jakarta.

3 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


belajar Ngeblog said...

Hebat, postingan seperti ini bisa membuat SEO menjaadi meluas cakupannya dan menyamarkan postingan review karena banyak sekali artikelnya.

Anonymous said...

sip

Toko Bunga Surabaya said...

Kalau di Rasakan memang Ramalan tersebut ada benar, tapi Apapun yang Terjadi Hanya kehendak Tuhan

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...