Noisy Sex and Noisy Neighbors Part II



Share
Akhir-akhir ini rumah kost an saya semakin gaduh saja oleh anak muda yang bermacam-macam. Pada siang hari mereka ngobrol dan merokok. Gadis-gadis dan ibu-ibu segar yang lewat sore hari selalu mereka sapa dengan cara yang semakin canggih.
Jika malam tiba musik dibunyikan, gaple dibanting, kelakar demi kelakar diluapkan dan Internet antar RT sibuk dengan berbagai 'dialog kebudayaan'. Satu demi satu anak-anak tercinta itu akan tertidur di tempat yang spontan.

Beberapa hari ini amat jarang saya pulang dan tidak beredar diantara mereka. Ketika malam itu diam-diam nongol lewat pintu belakang, terdengar anak-anak itu bercengkrama, menggambarkan betapa negeri ini 'amat makmur dan sejahtera'.

Saya masuk kamar, menenggelamkan diri di dalam udara yang lembab dan agak penuh penderitaan. Sunyi bilik saya yang tidak saya sapa sebab kami sudah karib sedemikian rupa berabad-abad lamanya. Dari dalam almari kayu yang agak lapuk terdengar suara meong-meong kecil. Rupanya Sinchan kucing tetangga, baru saja bersalin dan sibuk dengan empat 'putera'nya.

Saya tidur dan segala sesuatu tentang dunia ini saya tolak untuk terus saja mau ikut serta dalam tidur saya, tidur satu-satunya kebebasan saya. Tapi metabolisme di kantung kemih tidak mau diajak kompromi dan memaksa saya untuk bangkit. Keluar kamar saya menuju dapur, letak kamar mandi dan WC.

Rupanya saya membuat kesalahan ketika lampu dinyalakan dapur menjadi ribut. Terdengar decak dan desah orang-orang kaget dan kecewa, berlarian melongok ke dapur, saya melotot dan tertawa terbahak-bahak dalam hati.

Ada peribahasa mengatakan dengan bijak : "Dosa paling besar adalah mengganggu orang bercinta!" Malam itu hendaknya ditambah : "Jangan mengganggu orang ngintip orang bercinta!"

Dinding tetangga kamar yang itu, berlubang sebesar uang gopean logam dua biji, sungguh-sungguh strategis untuk menonton ke panggung terbuka itu. Saya jadi teringat pesanan Gudang Kambing untuk mendokumentasikannya (tapi gak laah ... maaf boss request-nya ditolak).
Primadona itu kini bercinta, menyelenggarakan pre-honey moon tiap malam, sehabis isya sampai jam 01.00, 02.00 atau bahkan sampai jam 03.00 --- sedemikian rupa sehingga pemuda, juga pemudi, dari seantero RT-RT berduyun-duyun menyaksikan liak-liuk tubuh, kepala bersambung, rok tersingkap, dada dua merpati turun naik di depan pintu kamar.

Para pemuda itu menyeret saya ke depan lubang pengintipan untuk membuktikan kebenaran fakta itu barang dua atau tiga menit padahal suara-suara anehnya sudah mengganggu saya dua minggu belakangan ini. Selebihnya situasi menganjurkan saya sok jaim dan berlagak tidak peduli.

Maka sehabis dari kamar mandi saya kembali tidur dalam kerisauan. Esoknya terdengar anak-anak mengecam perilaku amoral itu, bawa saja primadona itu ke hotel atau kemana sehingga tak usah mengganggu tetangga. Tetapi beberapa waktu kemudian suara-suara aneh dan tontonan itu usai, gara-gara sang primadona menerima semacam surat cinta dengan amplop biru muda yang berisikan ********.

Anehnya anak-anak seakan-akan kehilangan lapangan kerja yang amat penting, yang bisa menyodorkan semacam kesejahteraan rohani tanpa ongkos kepada mereka. Sekarang mereka harus mengerahkan kreativitas untuk menemukan alternatif baru.

Bagi anak-anak muda yang bekerja di parkiran pasar, agak gampang karena pasar selalu menawarkan banyak pilihan. Bagi yang mahasiswa bisa mengembangkan jaringan partisipan dunia 'ghaib' untuk nge-blog, chit-chat, dan skype-an. Adapun bagi sekian banyak penganggur aktivitas sewa komik bisa ditingkatkan.

Sampai hari ini badan saya masih beradaptasi dengan suhu di daerah ini yang di siang hari bisa mencapai 33,7 derajat celcius, menyebabkan kondisi badan kurang fit. Begitu sering saya termangu-mangu di tepian pintu. Menyaksikan anak muda yang kembali ceria setelah kehilangan 'hiburan gratis' dari tempat kost yang saya tempati, keceriaan itu menghiasi kampung, dari jam ke jam. Wajah-wajah anak muda itu menjadi ilham bagi nyanyian-nyanyian tentang negeri yang benar-benar merdeka, ekonomi sejahtera, kebudayaan matahari cemerlang dan sejarah burung berkicau. Bangsa Indonesia dengan duka dan luka berkepanjangan mudah-mudahan tidak disertai dendam yang tak pernah padam.

Indonesia Memang Tidak Sebaik Harapan Tapi Tidak Seburuk Prasangka.

source : ean-slilit sang kyai

2 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Ani said...

It's life. Sometime isn't fair , but it's still good.
Realize that life is a school & you are here to learn, pass all your tests. Problems are simply parts of the curriculum that appear & fade away like algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.
Dream more while you are awake & make it come true.
*halah, sorry kalau nggak nyambung, sambil lunch nih*

aprie said...

wah..ceritanya live show neh?
reality show ya?

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...