Kerohanian Berbalut Sekulerisme



Share
Apa yang terlintas di pikiran saat mendengar kata gereja? Tentu suatu bangunan yang mempunyai halaman sendiri, memiliki jemaat yang berbondong-bondong datang pada hari minggu/hari besar lain, ada menara tinggi diisi lonceng pemanggil jemaat melaksanakan ibadah, memiliki langit-langit tinggi yang monumental, mempunyai ornamen-ornamen yang indah (terutama pada gereja Katolik), dsb. Pengertian gereja sendiri menurut Kamus Besar Bhs Indonesia yaitu 1 gedung (rumah) tempat berdoa serta lakukan upacara agama Kristen : di situ ada — yg besar ; 2 tubuh (organisasi) umat Kristen yg sama keyakinan, ajaran, serta tata langkah ibadahnya (— Katolik, — Protestan, dsb). Dari uraian itu bisa disebutkan bahwa gereja dilihat dari dua pojok yakni dari sisi fisik serta dari sisi non-fisik. Dari sisi fisik yakni berbentuk bangunan yang menaungi serta dari sisi non-fisik yakni dari jemaat serta perkumpulan yang melaksanakan ibadah di dalamnya. 

Arsitektur Gereja 

Gereja yaitu cerminan budaya seputar. Di negara kita terutama, nampak corak-corak gereja yang basisnya yaitu komune. Hal semacam ini karena sebab aspek kenyamanan melaksanakan ibadah. Hal yang paling gampang dilihat yaitu gereja daerah, misalnya komune Gereja Kristen Jawa serta Huria Kristen Batak Protestan. Belum lagi banyak aliran gereja dunia yang turut masuk ke Indonesia, salah satunya Gereja di Garut menaikkan beragamnya komune gereja di Indonesia.


Untuk menguatkan ciri-ciri komune ini, umumnya jemaat bikin suatu bangunan gereja yang mencerminkan misi serta visi yang komune mereka bawa. Misal paling gampang yaitu bangunan Gereja yang bercorak kedaerahan umumnya sesuai dengan ciri-ciri bangunan daerah. Misalnya di Jawa Tengah, banyak gereja yang memakai pendopo juga sebagai bentuk basic dari bangunannya. Gereja diluar negeri juga umumnya tunjukkan jati diri komunitasnya dalam bentuk bangunan. Charles Warren Callister (1967), arsitek dari bangunan First Church of Christ Scientist, menyampaikan “Architecture evolves from faith“. Di sini diutamakan bahwa bangunan gereja yaitu pencerminan dari bentuk keyakinan jemaatnya. Jadi yang memastikan bangunan gereja seperti apa sesungguhnya yaitu jemaat tersebut, lantaran mereka yaitu pemakainya. 

Meskipun mempunyai corak sendiri yang berlainan sesuai sama komunitasnya. Ada tipologi umum yang ada pada bangunan gereja (saksikan gambar 1). Bangunan gereja umumnya terlihat menjulang dari luar lantaran langit-langitnya yang cukup tinggi. Tipologi ini didapat dari tipikal bangunan gereja di eropa yang memakai taraf untuk membuat kesan kecil pada diri manusia saat menghadap pada Penciptanya. Dari sisi interior, bangunan gereja biasanya mempunyai hall besar tempat berkumpul, serta terlalu fokus pada altar di bagian depan. Altar ini umumnya memperoleh perlakuan spesial lantaran jadikan juga sebagai point of interest. Di bagian altar dipertinggi posisinya dibanding sisi lain lantaran di sinilah pendeta serta beberapa majelis umumnya duduk serta melayani jemaat. Penekanan lain dapat diberikan dengan ketinggian langit-langit yang lebih tinggi di banding sisi lain atau mungkin dengan bukaan skylight yang sangat mungkin banyak sinar masuk ke daerah ini hingga konsentrasi jemaat bisa diarahkan kesini.

0 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...