Bentrok Ampera, Polisi Pantas Malu!



Share
Bentrok Ampera yang mengakibatkan Rusuh Ampera sehingga ada korban jiwa Polda Akui Intelijennya Lemah. parat keamanan ibukota, khususnya Polda Metro Jaya, layak merasa dipermalukan oleh pecahnya bentrokan terbuka di Jalan Ampera, depan PN Jakarta Selatan, Rabu (29/9).

Dalam Bentrok Ampera tidak ada upaya preventif dan kesan membiarkan dua kelompok massa bertikai saling bunuh di sebuah ruas jalan Jakarta menggambarkan betapa penangan keamanan di Ibu Kota negara.

Apalagi, peristiwa itu terjadi hanya beberapa saat setelah Presiden SBY mengeluarkan instruksi kepada seluruh aparat hukum untuk meredakan ketegangan masyarakat di Tarakan, Kalimantan Timur yang sudah berhari-hari dilanda konflik horizontal.

"Banyak warga Jakarta prihatin dan malu karena peristiwa yang mencerminkan berlakunya hukum rimba itu masih bisa terjadi di ibukota negara. Dua kelompok massa itu menggelar aksi saling bunuh tanpa menghiraukan kehadiran polisi di sekitarnya. ," ujar anggota Komisi III DPR, Bambang Soesatyo, Jumat (1/10).

Komisi III DPR RI meminta klarifikasi kepada Polda Metro Jaya, terkait kerusuhan Ampera yang terjadi di kawasan Jalan Ampera, Jakarta Selatan, pada Rabu 29 September 2010 lalu.

Dalam pertemuan itu, Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Timur Pradopo, mengakui kalau intelijen Polda memang lemah, untuk mengantisipasi terjadinya bentrokan Ampera yang menyebabkan tiga orang tewas.

"Kunjungan ini memang untuk meminta penjelasan. Kapolda mengakui kalau intelnya lemah," ujar anggota komisi III Fraksi DPIP, Herman Heri, Jumat 1 Oktober 2010, di Polda Metro Jaya.


Selain itu, Herman juga menilai polisi terlihat ragu untuk mengambil tindakan dan terkesan membiarkan kejadian tersebut. Padahal sudah terlihat ada penggunaan senjata tajam dan senjata api.

Sementara itu, Kapolda berjanji akan menangkap pelaku, dan akan melakukan terobosan hukum yang jelas, serta langkah preventif dalam menyelesaikan persoalan ini.

Sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya bentrok susulan, Kapolda juga akan mengumpulkan pengusaha hiburan malam untuk melakukan pemetaan, kelompok mana saja yang dipekerjakan secara informal sebagai petugas keamanan.

"Tokoh dari berbagai kelompok juga akan dikumpulkan Polda, agar gesekan serupa tidak terjadi," ujar Herman.

Terkai dengan keributan itu, Komisi III juga meminta polisi, dalam hal ini Polda Metro Jaya, untuk menyelidiki peredaran senjata ilegal yang kian marak.

Bentrokan antara dua massa itu terjadi sebelum persidangan perkara pertengkaran di klub malam Blowfish digelar. Tiga orang tewas akibat serangan dari salah satu kelompok dari luar sidang yang datang menggunakan tiga Kopaja dari arah Cilandak.

Tidak hanya senjata tajam yang digunakan dalam keributan itu. Pada perang terbuka itu, ada juga penggunaan senjata api. Tiga orang tewas akibat bentrok ini. Tiga korban tewas karena luka tembak, anak panah, dan benda tajam. Delapan orang dilaporkan mengalami luka-luka termasuk Kapolres Jakarta Selatan, Komisaris Besar Gatot Edi Promono.

Kini Polisi telah memeriksa enam saksi dan menetapkan satu orang sebagai pelaku dalam keributan tersebut. Tersangka berinisial 'S', ditangkap karena kedapatan membawa senjata tajam dan posisinya berada di luar pengadilan.

3 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


reka asikk said...

likeeeeeeee

kerajinan tembaga said...

sangat malu dan harga dirinya terinjak injak, apalagi ada korban tewas 3 orang.

kerajinan said...

dibutuhkan kedisiplinan dan kesigapan buat para jajaran polisi, agar tidak terjadi kerusuhan kerusuhan yang sampai menelan korban jiwa. ini harusnya menjadi pelajaran bagi para polisi.

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...