Candi Cangkuang Garut pra Gempa Tasikmalaya



Share
Kondisi dan keadaan suatu tempat sebelum terjadi bencana dan sesudah pastinya jauh berbeda. Setelah Kejadian Bencana Alam Gempa Bumi di Tasik yang menyebabkan ribuan rumah di beberapa kabupaten hancur, sebagian rata dengan tanah mengalami kerusakan ringan dan juga kerusakan berat.

Tadi pagi saya melihat beberapa daerah yang terkena dampak Gempa di Tasikmalaya salah satunya tempat bersejarah yang kurang dilirik oleh Pemerintah Daerah Garut yaitu Candi Cangkuang yang dibangun sejak Abad ke-7 hampir berbarengan waktunya dengan beberapa Candi-candi di pulau Jawa lainnya yang jauh lebih besar dan terkenal.

Sore ini akan membuat postingan tentang Candi Cangkuang Garut peninggalan bersejarah di Kabupaten Garut yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat umum, seandainya ada Candi Prambanan di Yogyakarta atau Candi Borobudur di Magelang orang sudah biasa, begitu juga Nama-nama candi lainnya seperti Candi Mendut dan Candi Kalasan.

Akan tetapi jika ada pertanyaan adakah Candi peninggalan di Kabupaten Garut. Mungkin mayoritas orang akan menggelengkan kepala. Padahal ada sebuah Candi yang dibangun masyarakat Garut di Abad ke-7 yang pada saat itu kebanyakan masyarakat menganut Agama Hindu.

Postingan ini bukan dalam rangka melakukan optimasi di kata kunci Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Pandeglang, karena saya akan membahas salah satu Kenali dan Kunjungi Objek Wisata di Garut sebelum Gempa di Tasikmalaya terjadi, sambil berjalan-jalan dan melihat beberapa Posko Korban Gempa tidak ada salahnya membuat postingan Candi Cangkuang di Garut, sebelum Candi tersebut hanya tinggal cerita dan tidak bisa dinikmati anak cucu kita.

Candi Cangkuang

Kabupaten Garut - Jawa Barat - Indonesia

Candi Cangkuang
Candi Cangkuang Tampak Dari Depan

Selayang Pandang

Cangkuang adalah nama sejenis pohon pandan (Pandanus furcatus) yang digunakan masyarakat sebagai bahan untuk membuat tudung, tikar, dan pembukus gula aren. Seiring dengan perputaran waktu, nama cangkuang diabadikan sebagai nama sebuah desa dan sekaligus nama sebuah danau/situ, yaitu Desa Cangkuang dan Situ Cangkuang. Kemudian, sebuah candi yang terdapat di kawasan tersebut juga diberi nama Candi Cangkuang.

Candi Cangkuang ditemukan oleh Prof. Harsoyo dan Drs. Uka Tjandrasasmita, Tim Peneliti Sejarah Leles, pada tanggal 19 Desember 1966. Penelitian ini disponsori oleh Bapak Idji Hatadji, Direktur CV. Haruman. Candi ini ditemukan berkat laporan ilmuan Belanda bernama Vordeman dalam Notulen Bataviaasch Genootschap terbitan tahun 1893, yang menyebutkan adanya sebuah makam kuno dan sisa-sisa arca Dewa Siwa di daerah Leles.

Pada penelitian berikutnya, di kawasan tersebut juga ditemukan peninggalan-peninggalan zaman prasejarah, seperti alat-alat dari batu oksidan (batu kendan), pecahan-pecahan tembikar dari zaman Neolitikum, dan batu-batu besar peninggalan kebudayaan zaman Megalitikum.

Dilihat dari bentuk bangunannya, para ahli purbakala berpendapat bahwa Candi Cangkuang berdiri sejak abad ke-8. Namun, jika dilihat dari kesederhanaan hiasan, teknik pembuatan, dan laporan tambo Cina, tidak mustahil bangunan Candi Cangkuang sudah ada sejak abad ke-7, bersamaan dengan pembangunan candi-candi lainnya di Pulau Jawa.

Keistimewaan

Mengunjungi Candi Cangkuang bak pepatah “sekali mendayung perahu dua tiga pulau terlampaui”. Pasalnya, sebelum sampai di lokasi candi tersebut, pengunjung akan melewati Kampung Pulo yang memiliki tradisi unik dan bangunan yang masih terjaga keasliannya. Dari atas getek (rakit yang terbuat dari bambu), pengunjung dapat melihat panorama alam Situ Cangkuang nan rancak.

Sesampainya di Pulau Panjang, lokasi beradanya candi, pengunjung akan terkesan dengan hawanya yang sejuk dan pemandangan yang alami karena di kawasan ini terdapat sebuah taman dan pepohonan teurep, beringin, dan randu yang berdaun rimbun. Gunung Haruman, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur yang menjulang tinggi, serta Situ Cangkuang yang berair tenang, membuat pemandangan di kawasan wisata cagar budaya kian eksotik dan eksklusif.

Di kawasan ini, terdapat sebuah museum kecil yang dibuka untuk umum. Di museum ini, terdapat koleksi barang-barang antik dan dua belas kitab kuno. Selain itu, terdapat juga dokumen-dokumen yang menceritakan tentang seluk-beluk candi, mulai dari proses penemuannya sampai proses pemugarannya.

Sekitar satu meter di sisi selatan candi, terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad. Konon, Embah Arif dan rombongannya merupakan utusan Kerajaan Mataram untuk memerangi VOC di Batavia (sekarang Jakarta). Karena kalah, mereka memutuskan tidak kembali lagi ke Mataram dan menetap di daerah Cangkuang yang masyarakatnya waktu itu telah memeluk agama Hindu.

Melihat potensi candi dan sekitarnya yang demikian, kawasan ini juga cocok dijadikan sebagai tempat wisata budaya dan wisata alam.

Lokasi

Candi Cangkuang terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Akses

Lokasi Candi Cangkuang berjarak sekitar 46 kilometer dari Bandung dan 20 kilometer dari pusat Kota Garut.

Pengunjung yang menggunakan angkutan umum dapat naik bus sampai Garut. Dari Garut, perjalanannya dilanjutkan dengan naik angkutan kota sampai ke Leles. Dari pinggir Jalan Raya Leles, lokasi candi berjarak sekitar 3 kilometer. Dari sini, pengunjung dapat naik andong, ojek, atau berjalan kaki sekitar 35 menit. Setelah melewati Kampung Pulo, pengunjung akan menyeberangi Situ Cangkuang dengan getek menuju lokasi candi.

Harga Tiket

Pengunjung dipungut biaya sebesar Rp 2.000,- per orang (data 2008).

Akomodasi dan Fasilitas

Di kawasan wisata Candi Cangkuang terdapat fasilitas, seperti pusat informasi pariwisata, pramuwisata, masjid, museum, shelter-shelter, areal parkir, perahu untuk mengelilingi sekitar candi, taman, kios-kios cinderamata dan jajanan, serta toilet umum.

Bagi pengunjung yang ingin menginap, di kawasan ini terdapat wisma dan hotel dengan berbagai tipe.

source : dari berbagai sumber

7 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Ocim said...

keren infonya sob

Agand said...

Wah udah kaya wartawan aja negh bang tozie.. up date dengan berita terkini. Kmh kang digarut teu kunanaon? Mohon dukungannya negh.. MERDEKA! :)

siapih said...

jadi pengen mampir nih ke cangkuang.. udah penat di bandoeng,,,.. siap kang K Tozie, nanti kalo ke garut saya mampir ke Picnic grt.. insyaalloh.. upami pareng..

Ceu Pipit [ipitoon] said...

kang tiasa tukeran link romantis otomatis.. abdi mah asli garut,, ti tanjung cipanas.. diantos weh kunjungannya di blog ceu pipit

heryanto said...

god info sob, sukses.

gimana kabar keluarga di kampung?

Download Aplikasi Facebook For Sony Ericsson said...

om tuker link donk please... link om dah tak pasang di blogku, tolong donk... ditaruhnya disidebar itu yah... :D

dadan said...

Saya tertarik terhadap tulisan ini. Yang perlu digaris bawahi adalah kita mesti melestarikan Candi Cangkuang ini. Artikelnya bagus bgt... maksih atas infonya. Lam kenal dan jabat erat dari saya.

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...