Belajar SEO pada Yogyakarta



Share
Kucoba mengenang lagi kehangatan rahim ibuku, sebuah dunia yang tentram dimana aku hidup damai dengan masyarakat kecilku, kakang kawah yang bersemayam dalam air ketuban dan adi ari-ari yang bersemayam pada tembuni pun merengkuhku sepanjang waktu. Kami hidup sejiwa tak ada pertentangan dan terbebas dari ancaman.

Hingga datanglah kelahiran itu bersama-sama kami meninggalkan rahim ibu, tangis pertamaku memang telah lama kulupa, namun kengerian yang mendadak menyergap saat aku lahir ke 'dunia entah' dunia nyata yang tak ramah.
  • Aku menangis ketika untuk pertama kalinya kulitku terasa perih diguris beringas udara yang begitu saja berjumpalitan keluar masuk lubang hidung dan relung paru-paruku.
  • Aku menangis ketika untuk pertama kalinya kupingku digasak suara-suara gemuruh yang datang dari luar tubuh.
  • Aku menangis ketika untuk pertama kalinya mataku menyaksikan benda-benda ganjil yang tidak aku kenal sebelumnya.
  • Aku menangis ketika untuk pertamakalinya kusadari diriku dikepung bahaya.
  • Aku menangis lantaran terpisah dari Ibuku, tercerai dari saudara-saudara serahimku.
Kelahiran dengan demikian mungkin menyisakan trauma bagiku,
mungkin juga bagi semua manusia ...
28 Oktober 28 tahun yang lalu ...
Jasadku terlahir di Garut ...
Tapi jiwaku ada yang membawa dan mengajak melayang-layang ke angkasa dan menukik ke satu tempat asing yang akhirnya kutahu bernama 'Jogja' ( Yogyakarta ) mana yang bener ya ?


Sampai detik ini jasadku baru 10 Jam menginjakkan kaki di bumi Jogja
tapi sejak aku keluar dari Rahim Ibuku ...
Hati Nurani dan Jiwaku hidup dan tinggal disana ...
Yogyakarta Rumah Ar-Rahimku ... Garut Rumah Ar-Rahman ku
Jasadku disini tetapi jiwaku tertinggal disana !
Jasadku saat ini ada di dunia asing, 'semesta dilema' disini aku membutuhkan kehadiran orang lain demi rasa aman sekaligus mencurigainya sebagai ancaman.

Aku selalu menolak untuk mengirimkan jasadku ke Jogja ... cukuplah jiwaku yang pergi kesana
Sehinga Jiwa Tozie bisa membayangkan saat-saat Yogyakarta adalah rumah ar-rahimku dengan kedamaian masyarakat kecilku yang tidak mungkin ada di dunia sandiwara saat ini.
Kenangan rahim menyebabkan setiap manusia ingin menemukan kembali masyarakat kecilnya yang saling menjaga. Biarlah hanya 'Kakang Kawah dan Adi Ari-ari' yang pergi lebih dulu untuk menjadikan Jogja Rumah Ar-Rahimnya ...

'Peradaban Manusia mula-mula digerakan oleh naluri dan kemudian diarahkan oleh pikiran'
Seandainya boleh berumpama jasad dan masyarakat kecilku ingin keluar di Jogja dari rahim Ibu yang sama.

Manusia tidak akan pernah Mati !
Kematian adalah jalan menuju kehidupan Akhirat
Kelahiranlah yang Tozie anggap Kematian

source : sitok srengenge, living in jogja

9 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Harry potter said...

wah...kang, makna dari tulisannya ini sungguh dalam sekali...hebat sekali cara mengkaitkan kata-katanya saya pengen seperti itu tapi kok gag isa aja yah......,

ratnanet said...

hem....nice postig....aku suka artikel2 mu...

lahir 28 oktober??? met ultah yah.....

fauzan said...

wah ini juga orang jogja yang kreatip

Bunda Rierie said...

hi.hi. belajar seo ya.. BTW kemaren bunda dari yogyakarta... lupa ngajak mas ya??

Ulie Azhar said...

:D

Si Garut..yg cinta Yogyakarta..tapi lagi nyasar entah dimana :D

Kalo ke Yk, titip salam buat Ivan dan Ipanks yak!

Hahaha...

ipanks said...

huwaaa ada yg ke yogya?kok g laporan sama saya yap?

[googleholic] said...

lagi2,..jogja,...
aku pengin pulang,...

bisnis online said...

jogja bagiku seperti rumah kedua setelah kota kelahirannku, dsn sampe sekarang masih terdampar di sini.

annosmile said...

selamat datang di jogjakarta

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...