Blogger vs Roy Suryo



Share

Jakarta - Ajakan para blogger untuk menggelar dialog terbuka dengan Roy Suryo terkait statement yang diucapkannya soal pelaku deface situs Depkominfo, tak lain hanya untuk memperjelas duduk perkara saja.

Menurut salah satu penggiat blog Indonesia yang pernah menjadi Ketua Komite Pesta Blogger 2007, Enda Nasution, niat para blogger menggelar dialog tersebut adalah baik. "Hanya ingin tahu maksud pernyataan blogger yang dituduh Roy berada di balik serangan ke beberapa situs internet di Indonesia," ungkap Enda kepada detikINET, Selasa (1/4/2008).

Pernyataan Roy yang mengklaim blogger dan hacker adalah pelaku aksi deface situs Depkominfo beberapa waktu lalu bikin geram para blogger. Seharusnya, lanjut Enda, Roy yang bertanggung jawab terhadap pernyataannya. Namun justru para blogger yang jadi repot meluruskan masalah.
"Kita yang dituduh, kita yang dirugikan dan 'dicemarkan' namanya, kita juga yang harus mengundang Roy Suryo dan minta penjelasan," keluh Enda.

Blogger, menurut Enda, hanya ingin memperjelas siapa blogger yang dimaksudkan Roy dan apakah Roy mempunyai bukti dan dasar sehingga bisa menuduh seperti itu. "Soalnya ini berkaitan dengan penyidikan polisi, kan ada prosedurnya, ini artinya Roy melangkahi fungsi penyidikan," tandas Enda lagi.



Source : Detiknet

9 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


ArdianZzZ said...

pertama XxX...

roy suryo yang katanya pakar komputer.. tetapi nggak tahu apa itu hacker.. 'saru!
hehe btw salam kenal yoi!

whyu said...

mau ketemuan dimana nih??? di laut??

madong said...

Yang realistis realistis aja,
sebagian besar warga negara ini lebih mendengar ucapan Pak Roy dibanding ucapan blogger oeyyy,..

Dan's said...

gila tuh orng... masa' seorang pakar komputer mengatakan bloger = hacker??

sebenarnya dia tau gak arti blogger dengan hacker???

klo gk tau gk usah ngomong...

Toni Malakian said...

Roy dimata saudara-saudaranya. Sebagian tulisan ini diambil dari tulisan di majalah Pantau karya Ambar Sari Devi.

Dalam pandangan saudara-saudaranya, Roy pribadi yang baik, meski punya kekurangan. Bagi Donny, Roy adalah kakak yang asyik diajak bermain, meski dianggapnya mempunyai ego besar. Mereka sering bertengkar, tapi tak saling mendendam.

Sebaliknya, di mata kakak laki-lakinya, Sony Suryo, Roy adalah orang yang suka mencari popularitas. "Lha kayak dia ikut tim (pelacakan) Tommy Soeharto itu, sebenarnya kan bukan (mencari) Tommy-nya yang penting, tapi .... popularitasnya," katanya di ruang kerjanya di Rumah Sakit Umum "Lokapala" Babarsari, Yogyakarta. Sony Suryo adalah seorang dokter spesialis kejiwaan.

Roy dianggap hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memikirkan keluarga. Ini disebabkan karena Roy belum dikaruniai anak. Tapi apa hubungannya?

Menurut Sony, pola pikir seseorang akan sangat berbeda kalau ia sudah memiliki anak. Segala tindak-tanduk akan memperhitungkan dan mempertimbangkan anak atau keluarga. "Nah, Roy ini sing penting mlebu koran (yang penting masuk koran). Nggak ada perhitungannya," kata Sony sambil tertawa.

Sony agak meragukan kemampuan Roy dalam bidang multimedia. Ia memberi contoh saat adiknya itu kehilangan laptop.

Toni Malakian said...

Saat itu, 2 Maret 2001, Roy dan istrinya sedang menuju Bali untuk sebuah seminar. Keterangan versi Roy Suryo mengatakan, antara lain dimuat dalam bulanan Intisari, pasangan suami istri ini menggunakan bus Safari Dharma Raya. Perjalanan lancar sampai di sebuah rumah makan di Ngawi saat bus berhenti untuk memberi kesempatan makan malam. Roy turun dari bus dengan membawa tas laptop dan tas tangan. Roy merasa seseorang menguntitnya ketika ia membeli air mineral.

Sesampai di Banyuwangi, Ririen Suryo terbangun dan ingin menelepon. Telepon selular yang berada di dalam tas tangannya hilang. Tak cuma itu, uang yang dimasukkan ke dalam amplop ikut amblas. Pasangan ini segera memeriksa barang bawaan mereka. Tas laptop telah berganti isi menjadi jenang dan air mineral. Laptop, handy talkie, dan alat lainnya hilang. Dari kondektur dan sopir bus diketahui pencuri laptop turun di Gempol.

Sesampai di Bali, telepon seluler Roy dihubungi oleh seseorang yang minta tebusan. Tawar-menawar pun terjadi. Uang tebusan harus dikirim ke sebuah nomor rekening bank BCA. Atas bantuan dari pihak BCA, Roy bisa mendapatkan nama pemilik rekening itu.

Roy juga menghubungi pihak PT Telkomsel untuk memantau aktivitas telepon selulernya. Melalui sistem pelacak call data record information lalu lintas percakapan sebuah telepon seluler bisa diketahui. Sayangnya kartu telepon yang dicuri adalah kartu pra bayar, sehingga aktivitas telepon seluler itu tak bisa dilacak.

Naluri ingin tahu Roy terusik. Ia segera mencari celah. Sebuah cetak biru yang menjelaskan prinsip kerja kartu telepon seluler, termasuk sistem billing, mekanisme blokir, dan perekam dicatat dalam apa yang disebut block diagram. Dengan cara inilah Roy dan PT Telkomsel berhasil menemukan nomor telepon yang dihubungi dan menghubungi telepon seluler yang dicuri itu.

Berkat posisinya sebagai narasumber dan konsultan di markas besar kepolisian Indonesia, Roy berhasil mendapatkan nama pemilik, alamat, dan aktivitas komunikasi.

Pelacakan laptopnya dilakukan Roy dengan menghubungi internet service provider untuk mengetahui aktivitas akses internet. Salah satu pencuri ternyata menggunakan laptop itu untuk mengakses internet dengan password dan login name milik Roy. Indonet, yang jadi langganan Roy, membantunya dengan memberikan login list.

Setelah sebulan melacak, Roy mulai bertindak. Ternyata telepon selularnya telah berpindah tangan lagi. Pemilik yang baru seorang dosen. Pemilik baru ini mengaku membeli telepon itu dari sebuah dealer resmi di Yogyakarta.

Roy dan polisi Yogyakarta bergerak. Pemilik toko itu mengaku memperolehnya dari orang yang bekerja di sebuah agen bus di terminal bus Umbulharjo, Yogyakarta. Kerja sama itu itu juga berhasil menemukan nama tersangka. Barang-barang Roy berhasil ditemukan walau data-data dalam laptop rusak.

Sony Suryo hanya tertawa mengingat peristiwa itu. Menurut Sony, pernyataan Roy bahwa laptop itu ditemukan berkat kecanggihan teknologi, adalah omong kosong. Yang sebenarnya terjadi adalah kerja keras polisi. Polisi berkepentingan dengan laptop itu karena di dalamnya terdapat data-data polisi.

"Lha wong pencurinya sudah ketangkep terus ditanyai polisi, siapa yang nggak ngaku? Nggak ada itu yang namanya kecanggihan teknologi. Notebook yang dipasangi pelacak itu nggak mungkin," ujar Sony.

Atau bisa dibaca di http://www.pantau.or.id/detailartikel.php?id=36

nanda said...

Dari semenjak Roy Surya 'kehebohan' sendiri soal kasus Adam Air dan 'Penemuan' lagu Indonesia Raya, terus terang aja, saya sudah meragukan kredibiltas blio sebagai 'pakar teknologi'.

Agung Wasono said...

http://agungwasono.blogspot.com/2008/03/pakar-pornomatika-vs-bloger.html

wis.. pancen..!!

Kuzazi said...

kbanyakan cas ces cos...
langsung aja sikat

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...