Puisi Negeri Para Bedebah Adhie M Massardi



Share
Pawang BuayaApakah Pawang Buaya malu malu kucing mau tangkap buaya ? Ataukah malah yang mau ditangkap adalah Pawang Buaya ... memang tidak mungkin dan belum pernah ada ceritanya ada Buaya menangkap Pawang Buaya.

Lirik Sajak / Puisi “Negeri para bedebah” oleh Adhie M Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor
menjatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan !


Video Anggodo Widjojo Sikapi Isi Rekaman



Wajah Penegakan Hukum Indonesia Tercoreng, Sadarkah SBY

Kisah perseteruan Polri vs KPK ini sepertinya menjadi drama paling kolosal sejak Indonesia merdeka. bagaimana akhir drama ini setelah pemeran utama sudah berganti ke tangan Adnan Buyung Nasution Ketua TPF, tetap hasil akhirnya di tangan SBY sang sutradara.

Pementasan hasil rekaman sudah diperdengarkan, hasil rekaman ini tentu syah dan tidak diragukan lagi karena di pentaskan dalam sidang MK, tempat muara segala persoalan hukum dituntaskan. Seperti buaya sesungguhnya sangat sigap dan gesit menerkam mangsanya, terlepas apakah Polri si buaya atau bukan, seharusnya seperti kesigapan densus 88 mengejar sang teroris, Polri harus segera menangkap dan menginterogasi semua pelaku yang disebut-sebut di dalam rekaman rekayasa KPK tersebut. Haruskah menunggu perintah sang sutradara atau pawang buaya SBY agar Polri segera bertindak ?

Drama kolosal ini sudah mencoreng wajah penegakan hukum di Indonesia yang memang sejak dari dulu sudah peang alias bopeng, KPK digelari cicak pada salah satu sisi ada benarnya karena selama ini hanya mampu menangkap nyamuk-nyamuk para koruptor, sedangkan tikus-tikus dan serigala koruptor masih melenggang kangkung menjarah negeri ini seperti kasul BLBI dan bank century. Semoga ending drama kolosal ini berakhir klimaks, KPK mampu menegakkan kepala ke depan selain menangkap para nyamuk koruptor, juga mampu menangkap para tikus, serigala, dan drakula koruptor. edan negeri ini sudah menjadi dunia fauna, kemeriahan kebun binatang ragunan pun pudar karena drama kebinatangan ini.

Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengungkapkan, Presiden merasa terganggu dengan maraknya penggunaan istilah cicak versus buaya. ”Beliau mau semua lembaga negara saling menjaga wibawa,” katanya.

Jangan hanya merasa terganggu pak SBY, bapaklah sang sutradara dan pawangnya, drama ini sudah mencoreng penegakan hukum di Indonesia, jika sudah demikian adanya, tidak lain dan tidak bukan juga sudah mencoreng wajah SBY yang selama ini penuh senyum, santun menebar pesona, “sadarkah SBY…?” wallahualam.

7 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Belajar Menjadi Blogger™ said...

drama kolosal ini mirip penyergapan temanggung, apa hasilnya mau kayak gitu ya? lama pasang strategi hasilnya hanya kadal buntung yang didapat

Bisnis n Hobby said...

Oknum pejabat tinggi ybs hrsnya gentleman.. mundur aja! minimal dimutasilah. msh banyak org bagus utk mimpin penegakan hukum.

Ocim said...

mudah2an kasusnya cepat selesai agar orang yg tidak bersalah tidak terjadi hal-hal yg tidak diinginkan

Anonymous said...

sangat bagus.........kita hanya bisa melakukan seperti ini..saya merindukan para mahasiswa bisa bergerak seperti tahun 98....dimana mereka ya?

Vermillion said...

Sudah terlihat jelas oleh saya sistem dari polisi sudah basi karena bekas didikan orde baru yang lama ditanamkan dan di buat UU, dan di era reformasi UU itu dipaksakan... sehinnga walaupun mereka mengatakan demokrasi, transparan dll, tapi dalam tindakan nyata meraka terang terangan otoriter dan arogansi tinggi..

Anonymous said...

dahsyat banget pilihan kata yang disisipkan di setiap penjelasan masalah..gw seraya kambing yang tergerak oleh aroma bangkai....iya bang ane salut ma paradigma abang menyikapi masalah.. tp bagi ane bang ane ga tertarik tuh ma masalah itu krn sudah dua tahun terakhir ini gw seorang sarjana filsafat yang masih merindukan pekerjaan....
semuanya bulshit bang selama penomena ini gak pinya efek baik buat masa depan ane... ya pragmatis dikit ga pa-pa kalee... merdeka..! bagi yang merdeka.....

Anonymous said...

drama yg bagus....

hehehe

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...