Senja di Langit Majapahit



Share

Tragedi masa silam kerap dijadikan sentimen antar kesukuan kadang seperti tak ada habisnya, meskipun hal tersebut tak pernah dipikirkan namun selalu muncul meskipun hanya sebatas gurauan pengakrab obrolan di warung kopi yang tidak tersedia goreng sampeu, comro ataupun bala-bala, tapi nama-nama makanan dan minuman asing dengan layanan bergengsi akses nirkabel.


Obrolan akrab sering tak jauh dari saling mencela, karena keakraban pula celaan sentimen antar kesukuan tidak pernah dianggap sebagai hinaan. Sentimen terbesar suku Sunda dan Jawa yang paling sering saya dengar dan selalu berujung pada kisah Palagan Bubat.

Buku Hermawan Aksan: Dyah Pitaloka


Aku ingin menjadi Dyah Pitaloka yang menolak pasrah pada nasib. Aku ingin menentukan sendiri untuk menjadi diriku sendiri. Ini aku saudaramu datang dengan secuil 'dendam'.
membunuh dibalas dengan bunuh (nyawa dibalas dengan nyawa), melukakan dibalas dengan luka, mencederakan dibalas dengan mencederakan. Pengkhianatan dibayar dengan penipuan ... Darah dibayar dengan darah ... Qisas


Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi adalah putri Maharaja Linggabuana yang memimpin Kerajaan Sunda-Galuh di abad ke-14. Di saat Majapahit mulai menyatukan Nusantara, ibukota Sunda-Galuh menempati Kawali, Ciamis. Jauh sebelum kisah tragis Palagan Bubat terjadi Sunda dan Jawa adalah saudara sedarah, Raden Wijaya pendiri Majapahit adalah Keturunan Raja-Raja Padjadjaran.


Kisah tragis tersebut intinya adalah Hayam Wuruk meminang Dyah Pitaloka dan prosesnya bersinggungan dengan ambisi dan Sumpah Amukti Palapa sang Mahapatih Gajah Mada hingga Maharaja Linggabuana melanggar tatakrama adat proses pernikahan dan Gajah Mada memaksakan sumpahnya bahwa Dyah Pitaloka adalah upeti yang harus diserahkan kepada rajanya.


Hermawan Aksan melalui penerbit Bentang Pustaka menuturkan kisah tersebut dalam novel fiksi sejarah berjudul Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit dalam buku kecil setebal 321 halaman.


Hermawan Aksan mengangkat sisi pemikiran perempuan Sunda masa lalu. Elaborasi pola pikir perempuan tersebut tentunya didasari atas tindakan bunuh diri Dyah Pitaloka bersama ketiga dayangnya, bukan sebuah tindakan kekonyolan ketika menyangkut sebuah harga diri, harga diri perempuan sekaligus harga diri negeri Sunda.


Memang tragis ketika utusan Kerajaan Sunda yang berjumlah 93 orang dibantai habis pasukan Majapahit di Tegal Bubat yang juga mengakibatkan 1.274 prajurit Majapahit tewas. Cukup membuat kita terhenyak melihat jauhnya proporsi, terlebih terhadap tingginya semangat bela pati, harga diri dibayar dengan nyawa.


Tragedi Palagan Bubat
tersebut juga menjadi tagline seorang perempuan Sunda Ciamis, The Sundanese Tragedy, yang katanya mengaku masih satu kerabat dengan Dyah Pitaloka sebagai galur murni keturunan Kawali:D


Entah sampai kapan di Tatar Sunda tidak akan ada nama bangunan atau jalan untuk mengabadikan nama Majapahit, Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Mungkin selama sentimen itu tetap ada.

source : dari berbagai sumber

7 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Aqie-Gaul said...

Dampak dari Perang Bubat tersebut, dan juga di akhir penulisan artikel disebutkan bahwa tidak ada nama jalan Hayam Wuruk, Gajah Mada dan Majapahit di Tatar Sunda semua ini barangkali dampak dari : esti larangan ti kaluaran yang dikeluarkan oleh kerabat Negeri Pajajaran yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak timur negeri Sunda (Majapahit). Entah kondisi seperti ini sekarang masih ada atau tidak, yang jelas pengalaman pribadi Aki pernah mengalami waktu mau melamar calon istri untuk salah satu Keluarga Aki yang kebetulan dari Ciamis (Asal muasal Kerajaan Pajajaran) ditolak karena kita berasal dari "Negeri Sebelah Timur" Tanah Sunda !.

rhapsody said...

Ehm...ini tulisan yang aku suka kang tozie..mengupas sejarah yang hampir terlupakan oleh orang2..Apalagi tanah sunda..^_^

Id@ said...

^_^ Kang Tozie,yang ini tozie yang aku suka...bagus tulisannya...aku cinta tanah sunda..

koekoeh said...

Wah keren nih bukunya ^^!

ipanks said...

waduh tebal banget yap bukunya.pengen baca tp tebal bgt gt ntr ujung2nya ga ngerti m isinya

Andy MSE said...

aku pernah baca buku itu... keren buangetz

edisamsuri said...

I wish I could have that book...and remember the past

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...