Pendekar dan Pakar siapakah dia ?



Share
Pakar dan Pendekar seperti juga pejuang dan pahlawan -- acap kali terasa sebagai sekadar roman yang membikin kepala kita tengadah. Ia berada di atas kita.

Bagai kisah para nabi yang sudah usai, atau telapak kaki setan yang tak mampu menyentuh bumi. Tak satupun pakar dan pendekar yang ada. Ia hanya obsesi di tengah jaman yang tema pokoknya adalah 'kemunafikan dan pengkhianatan'.

Pendekar itu tidak ada, karena kita semakin kurang mungkin untuk memilikinya. Kita jadi pesimistis dan rendah diri, sehingga dengan tertawa kecil kita menafikan kecenderungannya.
Tapi siapakan sang pendekar itu ? Coba kita ambil satu kisah dari Yoko, Toliongto atau Socrates ? Kemal Attaturknya Turki atau Jamaluddin Al-Afgani pada dekade kebangkitan kembali pemikiran Islam ? Lech Walesa atau mungkin Khomeini ?

Pada awal abad ke-18 orang inggris melihat paradigma baru kependekaran dan kepakaran.
Di Negeri ini tidak mengharapkan bahwa setiap warganya 'menjadi', melainkan agar setiap orang 'menjalankan tugasnya'.


Bendera superioritas 'kependekaran' dan 'kepakaran' diturunkan.
Kita sekadar membutuhkan disiplin, pelayanan, kesetiaan dan pengorbanan.
Kemanusiaan jangan lagi dihargai oleh ketinggian kekuatan, keberanian, pangkat, kebesaran, kekuasaan, serta kekayaan.

Konsep 'wahyu Kedaton', Sutawijaya, Panembahan Senopati, pendiri Mataram dalam sejarah Jawa, hanya kamuflase bagi kenyataan konsep yang sebenarnya.
Seperti jaman Renaisans Eropa, "wahyu" yang sesungguhnya dimaksud oleh Panembahan Senopati ialah kualitas intelektual yang dijelmakan dalam wawasan sosial serta kemampuan dan keterampilan mengendalikan.

Senopati membungkus hal itu dengan konsep wahyu agar dapat memonopoli kedudukan dan status.
Agar para 'pendekar' dan 'pakar' dari dusun tidak akan berani memimpikan kekuasaan, sebab mereka tidak akan mungkin memperoleh 'wahyu'.

Lingkungan Aristrokasi itu dipagari sedemikian rupa dengan mitos, dan para 'pendekar' atau 'pakar' bisa saja menempuh karier, sepanjang ia MENGABDI DAN BERKOLABORASI semutlak mungkin kepada lingkaran itu.

Benarkah demikian ? seandainya saya ini Pakar atau Pendekar, Insya Allah akan saya jawab dengan gagah perkasa, susahnya paling jauh saya hanya sekadar tukang 'gombal tentang cinta'

Zaman dulu, pendeta-pendeta di dusun diberi gelar Ki Ageng - suatu bujukan untuk merangkul dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran itu. Sehingga di Jawa dikenal konsep 'ngenger' -- ketika pendekar dusun menyembah ke keraton untuk menjadi hamba sahaya, atau 'ngawula'.

Akhirnya proses pewarisan kependekaran dan kepakaran itu tidak "membumi" terpola di lapisan atas dan agaknya akan tumpul.

Banyak yang seperti tokoh Ki Ageng Mangir, dalam sejarah Mataram yakni jago di luar establishment yang 'diundang ke dalam kemudian ditewaskan'.

Sebagian orang lebih suka memilih jadi Mahesa Jenar, jagoan dalam kisah Nagasasra Sabuk Inten : mengundurkan diri dari lingkaran establishment yang memilih membentuk pengabdian yang lebih steril.

Sebagian yang lain jadi pasingsingan tua, juga dari cerita silat yang sama : 'tiarap' dan bertapa serta bermimpi suatu hari akan tampil kembali sebagai arsitek jaman.
Namun gambaran kedua tokoh itu agaknya terlalu mulus untuk bisa benar-benar terwujud dalam jaman mutakhir ini.

Akhirnya 'Pakar' dan 'Pendekar' yang saat ini ditayang-tayangkan tidak bisa membedakan :
Mana Utara mana Selatan ...
Mana Asap Mana Api ...
Mana Emas mana Loyang ...
Mana Nasi dan mana Tinja
...
Bahkan 'keliru atau terpeleset lidah'
Mana Blogger ... dan Mana Hacker

source : EAN Jombang

1 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


wawan junaidi said...

Cuma mau bilang..Tulisan-tulisan guru emang menakjubkan,,Sudah seperti seniman tingkat tinggi,,,aq gak boong,,,

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...