Minazh Zhulumaati Ilan Nuur (Dari Gelap Menuju Cahaya)



Share
Minazh Zhulumaati Ilan NuurSalah satu Tokoh perempuan dengan wawasannya yang terbuka dan ketajaman pikirannya terlihat dari tulisan-tulisan yang ia kirimkan ke beberapa sahabat dekatnya. Pada awalya terlihat 'kemarahan' Kartini atas kondisi kaumnya yang semula ia lihat sebagai dunia yang tidak adil yang lebih menguntungkan kaum pria.

Sebagai seorang remaja yang resah ia berontak terhadap adat bangsawan jawa saat itu, yang memingit anak gadis, dan kebiasaan kaum bangsawan berpoligami.

Ia bahkan pernah berpendapat bahwa untuk menjadi perempuan merdeka mungkin tidak perlu menikah. Namun gejolak keresahan jiwa Kartini menjadi berkurang sejalan dengan usianya yang lebih dewasa. Dan ini tampak dalam perubahan gaya tulisannya terutama ketika ia mendekati ajal. Setelah melalui proses berpikir yang cukup panjang. Kartini tampak telah menemukan konsep akan kemandirian wanita. Ia kemudian begitu mantap mengenal siapa dirinya apalagi ketika sudah menikah dengan seorang pria yang ternyata sangat mendukung cita-citanya.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya, namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi, Kartini telah kembali kepada pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya utuk mempelajari islam dan mengamalkannya (Surat Kartini Kepada Ny.Van Kol 21 Juli 1902)

Sosok Kartini malah dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk kampanye emansipasi yang bergeser dari fithrah perempuan' yaitu mendorong kaum perempuan agar diperlakukan sama dan sederajat dengan kaum laki-laki.

Padahal kodrat lelaki dan perempuan berbeda. Emansipasi makin mirip dengan libelarisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sebenarnya semakin memperlihatkan keinginan untuk kembali ke fithrahnya. ''Door Duisternis Tot Licht' sudah terlanjur diartikan ''Habis Gelap Terbitlah Terang''Prof Haryati Soebadio (cucu Tiri Ibu Kartini) mengartikan ''Dari Gelap menuju Cahaya' yang dalam bahasa Arab ''Minazh Zhulumaati Ilan Nuur'

Banyak orang yang sering memberikan julukan pada Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita dalam pengertian perlakuan yang sama dan sederajat lelaki dan perempuan Apa Iya ?

Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya.

Tetapi kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya : Menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya 4 Oktober 1902)

Gagasan R.A Kartini ini diartikan secara sempit oleh satu kata 'Emansipasi' yang akhirnya siapapun bebas mengartikannya sesuai keinginannya sendiri.

Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat eropa benar-benar satu-satunya yang paling baik tidak ada taranya, maafkan kami. Tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat eropa itu sempurna ?

Dapatkah Ibu menyangkal di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai 'peradaban' ? (Surat R.A Kartini 27 Oktober 1902)

Gagasan-gagasan Kartini yang dirumuskan di kamar yang sepi oleh mereka dirayakan di atas panggung yang mewah. Kritikan Kartini yang pedas terhadap Barat malah diartikan merupakan isyarat untuk meniru-niru mereka ('tuturut munding ka wanoja-wanoja Barat')

Perbedaan lain yang menarik dari Kartini pandangannya terhadap pria sebagai mitra perempuan untuk kemajuan bangsa. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan kaum feminis yang menganggap pria sebagai sosok penindas dan penghambat kemajuan wanita.
Kartini menulis sewaktu ia memutuskan untuk menikah.

''Akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada di samping laki-laki yang cakap, mulia, yang saya hormati ... lebih banyak, daripada yang dapat saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri''

Beasiswa sekolah ke Batavia akhirnya ia serahkan kepada H.A. Salim karena melihat dia mempunyai cita-cita yang sama dengan dirinya yaitu kemajuan bagi seluruh bangsa, bukan sekadar kemajuan jenis kelamin tertentu.

Wallahu'alam bissawab

8 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Ani said...

Nggak bisa ngomong apa-apa, selain mo bilang: postingannya kereeeen!

Indah said...

Sama gak bisa ngomong apa-apa...selain:
Met Hari Kartini...

GHATEL said...

met hari kartini, semoga perempuan indonesia dapat mengikuti jejak beliau yang tangguh ... :D

Indra Gunawan said...

Wah bagus banget artikelnya..smoga lebih banyak dibaca oleh feminis..keren..Salam kenal Mas..

Hasan said...

Sae-sae kang artikelna....ck...ck...ck

Hasan said...

Pokona hebring euuuy infona

Hasan said...

Hari Kartini emang tanggal berapa?? aku dah lupa...

Hasan said...

Wah si akang emang suka mengingatkan orang lain tentang jasa pahlawan2 kita salut abdimah.

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...