Cara Kencing Jika Celana Dalam di Kunci Gembok !



Share
Belajarlah Kencing....

“Belajarlah kencing, ucapkan, pahami dan lakukan itu dengan benar, sebelum melakukan hal yang lebih besar. Jangan ikuti kesalahan orang tua-orang tua dulu. Jadilah manusia yang punya nurani”,
Seandainya Guru kita dulu pernah kencing berdiri ...
Mungkin kita sebagai muridnya tak sadar kencing berlari ...
Lalu ... seperti apa ' gaya kencing ' anak-anak murid kita ?

***

Bersurat kepada saya seseorang yang selama tujuh tahun, tiap hari, pukul 11 siang sampai jam 2 malam, bergaul di tengah seribuan hostes, massage girls, 'tukang pijat plus'atau apapun namanya di tiga streambath terkenal.

Ia membantah asusmi tentang motivasi ekonomis para pelacur, karena "delapan dari sepuluh wanita ribuan yang kuamati itu rata-rata sudah punya rumah cukup mewah, bahkan sampai 2 biji, biasanya yang satu dikontrakan, Dikatakan jarang yang sekadar punya motor roda dua.
Tabungan mereka aduhai".

"Tiap hari meladeni lima sampai tujuh ' tamu ', ada ' tukang pijat plus ' yang top, lima tahun punya 17.000 kartu nama, saingannya kerja empat tahun punya 15.000 kartu nama. Bonus ekstra mereka selalu fantastis."
Oke. Tapi apa sesungguhnya kartu As mereka ini, hingga memperoleh duit begitu banyak ?"
Dikemukakan semula tak banyak yang melakukan ' pariwisata liar ' seperti itu.
Sering juga bermula 'normal' saja, tapi akhirnya ya ... -- Kaum Adam tak cukup makan 'sebiji khuldi'.

Bayangkan ..., katanya (Jelas, kalau sekadar membayangkan atau berimajinasi saya jago ... boleh tanya my 'Invisible Wife' here and there).

"Peraturan Perizinan Hitam di atas putih itu Nol Besar. Saya berani bersumpah dan saya bukan orang kejam yang mau memfitnah." Ia berkata bahwa sudah ada tempat begituan yang jadi abu karena kutukan Allah, tapi kini sudah berdiri megah 'pasar kelamin' baru, tempat ribuan Kartini kontemporer menjajakan 'miliknya'.

Pelacur itu masih lumayan: toh yang mereka jual 'barang'nya sendiri. Kita sendiri mungkin punya saham 'kifayah' terhadap perkembangan pelacuran.
Terciptanya pelacuran menurut para cendekiawan bersifat struktural juga, sebab ada pelacuran wewenang, pelacuran amanat, pelacuran jabatan, pelacuran ... yang sedikit banyak kadang kita kerjakan juga setiap hari.

Apa program yang tepat untuk memberantas pelacuran, blue film yang nlesep kemana-mana, Mengkhotbahi produser film ? Menggembok Celana Dalam para Tukang Pijat ? Mencari ' Orang Pintar ' di pelosok Garut yang bisa membuat ' burung suami ' kita lunglai jika hinggap bukan di ' sangkar ' miliknya ?

Memang dunia kita ini bukan surga berwarna putih seperti jilbab yang dikenakan Ibu-ibu 'segar'. Kita tak akan bisa merobek dan menurunkan poster setengah telanjang di gedung bioskop. Kita tak bisa membreidel koran dan majalah 'kuning'. Kita tak bisa melenyapkan tempat perzinaan legal.
Kita tak bisa melenyapkan tempat-tempat 'pijat' dan tempat terselubung lainnya.
Kita tak bisa menyensor film atau menceramahi para produser. Tak bisa menyetop penyebaran film-film biru. Tak bisa membabati pepohonan kemungkaran dengan pisau Kita yang jarang diasah. Tak bisa ...
Memang sia-sia menebang pohon yang makin meraksasa dengan busa mulut.
Dan keahlian kita pun tampil, yakni mengutuk. Padahal yang diperlukan ialah ...

Kita memang tidak bisa melenyapkan pelacuran, tak bisa menguranginya. Tapi barangkali Kita bisa ikut tidak menambah jumlah pelacur -- lewat putera puteri kita -- justru dengan tidak menyelimuti diri dengan tak mau tahu serta ketidaktahuan, sehubungan dengan lingkungan.

Ia mengimbau: "Apakah Bapak-bapak tidak menyadari timbulnya keresahan sosial bila hal ini terus berlanjut ? telah kusaksikan ratusan keluarga berantakan karenanya -- keluarga para ' pelacur ' maupun konsumen." Ia tidak rela "Kemajuan bangsa Indonesia terhambat dan terkotori oleh beberapa bagian masyarakat yang berlepotan kemaksiatan dan bejat moral."
Demikianlah ... seperti orang kehujanan dan tak bisa berteduh, dengan murung saya membaca akhir suratnya yang mengimbau saya, agar saya mengimbau.

Maka, dengan ini saya mengimbau saudara-saudaraku, agar bersedia mengimbau.
Menjelang sepuluh tahun masa reformasi mari kita isi dengan imbau-mengimbau
Sebab mungkin hanya itulah kemampuan pamungkas kita. Wallahualam Bissawab

Wadduh .., terpaksa tulisan ini diakhiri dulu. Saya mau kencing, tapi rupanya 'kunci gembok' celana dalam saya dibawa My Invisible Wife 'entah kemana'. 

source : EAN Jombang

6 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Ani said...

Yaaa mungkin memang hanya itu yang bisa kita lakukan sementara ini, saling mengingatkan satu sama lain.

Nur Patria Herryanto said...

Pelacuran adalah salah satu kejahatan tertua di muka bumi.

Sepertinya gak mudah membasminya. Sama seperti judi.

Indah said...

kalo mo pipis bilang donk....kan kuncinya bisa aku kasih dr pd pipis dicelana he..he....
kunci yg mana lagi...ada juga bukan kunci gembok...kunci mobil, bisa gak ya...

irmabuana said...

Ya semoga aja segera ada realisasi ga cuma himbau menghimbau atau pake cara aneh bin ajaib. Celana dalam bergembok? Ada gambarnya ga? Aku penasaran banget!

Rezki said...

Hoou.gemboknya dimananya yah?

albri said...

Bagus sekali tulisannya.. harusnya menulis buku juga bang, balik kepostingan terbaru dulu..

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...