Unhappy Marriage is better than Divorce ?



Share
Unhappy Marriage is better than DivorceKau pilih yang mana : Tidak menyatakan cinta kepada Allah dan benar-benar tidak mencintaiNya, atau kau nyatakan cinta kepada Allah tapi engkau tidak benar-benar mencintaiNya ?

Yang manakah yang lebih besar dan rangkap dosanya di hadapan Allah? Kepada yang manakah Allah lebih merasa disakiti hatiNya ?

Berhadapan dengan seribu musuh yang jelas-jelas musuh dan menegaskan kepada kita bahwa mereka musuh, masih lebih mudah dibanding berdampingan dengan seorang kawan yang ternyata diam-diam adalah musuh.

Kenyataannya, di Negara kita banyak sekali kasus seperti itu. Rata-rata orang lebih baik hidup dalam kehidupan rumah tangga atau perkawinan yang kusam dan tidak membahagiakan daripada bercerai.

Alasan utamanya satu, demi anak-anak. For God shake, demi anak-anak. Hm....demi anak-anak. Yah, alasan yang sangat bisa dimengerti.

Alasan lainnya mungkin sang isteri tidak bekerja, sehingga sangat takut kehilangan orang yang mampu menghidupi dan membiayai hidupnya.

Selain itu, perceraian juga menimbulkan biaya yang sangat besar. Itu sebabnya laki-laki yang sudah pernah menikah, ketika akan menikah lagi akan berfikir beribu kali mengenai tepat tidaknya calon yang akan dinikahinya. Bukan apa-apa, daripada terperosok dua kali untuk dua hal yang sama dan memberikan kontribusi lebih banyak lagi bagi para mantan isterinya kalau kemudian terjadi perceraian lagi.

Sebenarnya perceraian itu sangat menyakitkan. Emotionally and financially. Secara emosional, berpisah dengan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidup kita benar-benar suatu hal yang tidak pernah terfikirkan ketika mengikat janji untuk bersatu. Akan tetapi ketika semua yang dilakukan sudah tidak lagi sejalan, maka secara emosional pula, hati menolak untuk memaklumi semua perbedaan yang ada.

Financially, seperti yang saya sebut di atas tadi. Seorang laki-laki yang bertanggung jawab, harus tetap memberikan tunjangan bagi anak-anaknya walaupun sudah bercerai dengan istrinya. Belum lagi kalau ada harta gono-gini yang harus dibagi.

Kebanyakan orang yang hancur setelah perceraian adalah orang-orang yang tidak siap akan perceraian. Lho? Memangnya siapa juga yang harus bersiap-siap untuk suatu perceraian?

Ya kita dong! Mempersiapkan perceraian sebaik mempersiapkan perkawinan mungkin hasilnya akan baik juga bagi perkembangan jiwa anak-anak.

Agak aneh nggak sih? Perceraian kok dipersiapkan dengan baik? Boro-boro mau mempersiapkan, ngobrol saja mungkin sudah tidak bisa ya? Jarang sekali orang yang mau bercerai bisa duduk sama-sama membicarakan yang terbaik bagi anak-anak mereka setelah bercerai.

Di Indonesia, kebanyakan laki-laki hanya lari dari tanggung jawab pemberian tunjangan bagi anak-anaknya setelah bercerai. Dengan santainya mereka menikah lagi dengan orang lain dan punya anak lagi, padahal tanggung jawab yang sebelumnya pun tidak dipenuhi. Oleh karena itu, para perempuan musti pandai mempersiapkan diri sehingga kalau kebetulan bertemu dengan laki-laki pecundang sejati seperti itu, paling tidak ada harta bersama yang bisa dijadikan pegangan.
Ada yang bilang a GOOD DIVORCE IS BETTER FOR CHILDREN than A BAD MARRIAGE. Mari kita sama-sama renungkan.

Kalau sepasang suami isteri sudah tidak bisa rukun kembali, dan rumah tangga hanya dipenuhi oleh pertengkaran setiap hari, apakah tidak lebih baik memutuskan untuk berpisah saja daripada anak-anak melihat contoh yang tidak baik?

Kalau sepasang suami isteri sudah tidak memiliki kecocokan dan akhirnya berselingkuh dalam kehidupan perkawinan sampai anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya, masih haruskah perkawinan itu dipertahankan?

Kalau seseorang sudah merasa dirinya adalah pihak yang teraniaya dalam perkawinan itu, masihkah harus bertahan hanya demi anak-anak? Bukankah anak-anak yang perasaannya peka ini malahan akan mendapat pelajaran mental yang tidak baik?

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud memprovokasi orang-orang yang perkawinannya bermasalah, hanya mencoba membagi pengalaman saja. Memikirkan yang terbaik bagi semua pihak memang tidak semudah mengatakannya. Akan tetapi dengan kesadaran penuh untuk membuat semua pihak merasa terpenuhi kebutuhan moral dan materialnya, mungkin bercerai adalah alternative terbaik.

Setiap orang memang mempunyai latar belakang masalah yang berbeda, dan tentu saja jalan keluar yang ditempuh demi menyelesaikan permasalahan itu tentu berbeda-beda pula. But for me, perceraian adalah jalan terbaik, for me and my kids. We are happier now, and I will never let anyone take that happiness from us.

3 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Ria said...

Mungkin orang - orang dalam kondisi seperti itu sebenarnya sedang dalam dilema ... mungkin benar katamu, mereka butuh waktu untuk mempersiapkan diri.
Btw, pic nya kurang jelas tuh :)
Take care urself n ur super son

siSuBUrrrr...;p said...

ass... beropini apa ya? kan spekulasi point2 nya mah ada 3 bukan?
1.sutri bermasalah.
2.perasaan/hubungan antara duda/janda dgn pasangannya yg baru
3.sutri yg "modern"

gw mah lbh tertarik point ketiga. Ttg "SutRi MoDern"! knp gw sebut bgtu, soalna itu emg fenomena yg lg Tren gtu loh...yaitu Tentang pasangan "serasi". saking serasi dan adem ayemnya, bisa saling membebaskan diri untuk "mencintai" raga yang lain. gak kan ada yg tau klo dbalik tirai yg megah, berdiri gundukan sa**ah. hehehe, salah ga sih gw opini? tatutttttt. :((

ada bbrp alasan yg mungkin jd penyebab hal itu terjadi. Salah satuna cuy krn faktor politik dan kebiasaan hidup diatas opini massa. y, bkenaan dgn Nm bsar pasangan, daerah kekuasan pasangan, kekayaan, nm baik keluarga dsb.

"ora dadi masalah koe ora seneng aku asal koe nge'i aku "jeneng apik" --->>>(gak nyambung)huhahah

duh, semoga gak diprotes ;p

PuTLie said...

mungkin lebih baik bercerai daripada mempertahan sesuatu yang terpaksa.

Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...