Seks cewek apa cowok ? mari kita wawancarai ...



Share
Ternyata aku ini pada hakikatnya memang kurang sanggup menghargai 'kesopanan', Oleh semua itu aku tidak krasan, aku ingin menjelajahi dunia yang penuh dengan kejujuran, keterbukaan, tanpa tabir, tanpa tedeng aling-aling. Dan itu sering kita jumpai dalam dunia glamor sebagai artis-artis. Sebagian lho .... sebagian, Dunia dimana kain sangat mahal, sehingga ada bintang yang hanya mampu membeli celana dalam dan bra atau bahkan ada yang tak bisa membeli apa-apa sama sekali.

Memang di negeri Indonesia yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa ini kita sudah berani menerbitkan majalah macam Playboy walaupun didera 'protes' disana sini, Dalang tak pernah kehilangan lakon, kita tahu bagaimana cara mem-playboykan media massa dengan cara yang lebih canggih. Cover tak usah telanjang betul, asal merangsang. Lantas kita bikin yang mlayboy (termasuk judul postingan ini gak ya ?) ... "setelah sekali merasakan langsung ketagihan", "bukan panjang pendeknya tapi teknik mainnya".

Ternyata masyarakat umum juga amat mendambakan keterbukaan, Masyarakat merindukan rahasia tidak ditutup-tutupi. Masyarakat benci kemunafikan, maka media massa yang penuh pembukaan rahasia-rahasia, laku keras. Ditambah dengan makin bodohnya masyarakat modern, buku dan majalah pun harus mengajari mereka bagaimana cara 'bersenggama yang baik', bagaimana caranya supaya tidak kecelakaan, bagaimanan melakukan penyelewengan secara canggih dan terjaga efek-efeknya, atau memberi keyakinan kepada pemuda-pemudi bahwa keperawanan bukanlah sesuatu yang mutlak. Dalam hal ini aku mencoba mewawancarai sejumlah dokter, psikiater, pedagog, pastor, atau kyai.

Orang bahkan penasaran bahwa lelaki tergantung pada orgasme, seorang pakar memberi contoh ada seorang nabi yang sanggup melakukan dua belas kali persenggamaan secara runut tanpa mengalami orgasme. Teori ini mengatakan bahwa lelaki harus menang melawan kebutuhan orgasme. Lelaki bisa lebih besar dibandingkan orgasme.

Akan tetapi di hari-hari terakhir aku dipusingkan oleh sesuatu hal. Liputan-liputan gaya playboy sudah hampir mencapai titik jenuh pasar. aku mencoba bertualang dan 'bertemu serta mewawancarai mahkluk bernama seks'. Ya seks itu sendiri bukan seorang lelaki ataupun seorang wanita.

Kalau mewawancarai Presiden atau Gubernur sesulit apapun jelas birokrasinya. Tapi mewawancarai seks dimanakah seks berada ??

Sudah tiga tahun terus-menerus aku melacaknya aku sudah capek, sehingga tinggal sisa sedikit tenaga saja untuk melaporkan kepada Anda.

Seks itu makhluk ciptaan Tuhan. Sudah pasti, tapi apakah untuk mengetahui seks aku mesti mempelajari filsafat seks atau seks filosofi? aku tidak mau dibikin puyeng oleh agama seks atau seks yang religius, tapi kata para Wali dulu seks itu amat religius karena merupakan 'sendi utama regenerasi sejarah' merupakan manifestasi dari kerinduan Tuhan itu sendiri. Tuhan menciptakan manusia agar dipandangi, didekati, dan dicintai oleh manusia ciptaan-Nya. Seks yang tidak religius hanya terjadi pada manusia yang melakukan seks hanya demi dan untuk kepuasan hewaninya belaka.

Tidak, aku tak bakalan mewawancarai seorang filsuf atau pakar agama, aku dalam rangka melacak seks, langsung saja berangkat ke lokasi 'pelacuran' ... Bursa Seks.

Namun ketika aku tanya tentang seks pelacur itu menjawab, "Wah aku tidak tahu, Kang Tozie. Disini aku mencari makan." Dan para lelaki hidung belang langganannya pun menjawab "aku tidak pernah ketemu dengan seks Kang... aku memang mencarinya terus menerus dengan jalan bersenggama disini hampir setiap hari.

Tapi yang aku jumpai hanya 'orgasme. Hanya ekstase. Kalau aku sudah ketemu sama seks, untuk apa aku terus-terusan ke pelacur begini ?" ujarnya.

Kemudian di losmen-losmen 'penyelewengan' alias 'wisma-wisma skandal dimana mahasiswa dan mahasiswi atau pegawai wanita dan pegawai pria berseragam suka menyewa kamar 'satu dua jam', aku juga memperoleh jawaban yang mengecewakan ..."Gini lho, kalau aku sendiri. aku begitu tergoda oleh seks. Tapi kalu sudah berdua di kamar, paling jauh yang aku jumpai adalah diri kami sendiri yang berubah menjelma menjadi "kuda atau kera" yang bergumul telanjang selebihnya .... rasa dosa yang kami simpan diam-diam.

Akhirnya aku pulang dengan putus asa ... aku sungkeman ke 'guru' aku dan berkata, "Pak jawaban mereka sangat lucu. Mereka bersenggama, tapi mengaku tak tahu seks Lha apa beda 'bersenggama' dengan seks?"


"Lho sangat berbeda," kata beliau,"Persenggamaan hanya sekadar alat, atau cara, atau tarikat, untuk mencari dan menemukan seks. Seks itu suci. Seks itu tinggi derajatnya dan derajat ketinggian Seks itu tak mungkin kamu jumpai di 'losmen penyelewengan' atau 'wisma skandal', juga tidak di kamar-kamar kos kumpul kebo."

Ruwet, Pak!' kata aku karena kamu sukanya bersenggama, tapi salah paham terhadap 'seks', kamu menyamakan persenggamaan dengan seks seperti menyamakan 'sembahyang dengan Tuhan', atau 'perkawinan dengan kebahagiaan', 'atau nasi dengan rasa kenyang'.


Nasi hanya alat untuk mencapai 'kenyang' kalau kamu sudah sampai kepada kenyang 'nasi tidak lagi diperlukan'.
'Kalau kamu sudah tiba di kebahagiaan, perkawinan tak dibutuhkan"
'Kalau kamu suatu saat sudah tinggal di Tuhan, kendaraan sembahyang tak diperlukan"
"Kalau kamu sudah bersemayam di dalam seks, persenggamaan tak lagi dibutuhkan"


Halah ... "kalau begitu," kata aku jengkel ...'biarlah aku tak pernah tiba pada seks ..."

0 Komentar:

KLIK UNTUK MENAMPILKAN SEMUA KOMENTAR


Post a Comment

Silahkan Komentar Nye-Pam terpaksa saya Hapus.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...